AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Creative-Vintage-Floral-Powerpoint-Background-1000x750
Standar
  1. Definisi Ahlussunah Waljama’ah

Ahlussunnah wal jama’ah terdiri dari tiga kata yaitu:Ahlun berarti keluarga atau golongan. As-Sunnah berarti ucapan , tingkah laku dan ketetapan Nabi Muhammad s.a.w dan Al-Jama’ah berarti kumpulan atau kelompok. Ahlussunnah wal jama’ah berarti golongan atau orang-orang yang selalu setia mengikuti dan berpegang teguh pada jejak langkah Rasulullah SAW sebagaimana yang dipraktikkan bersama para sahabatnya.

Ahlus Sunnah Waljama’ah identik dengan ma ana ‘alaihi wa ashabi” seperti apa yang dijelaskan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi, Ibnu Majah dan Abu Dawud bahwa “Bani israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah manjadi 73 golongan, kesemuanya masuk neraka kecuali satu golongan”. Kemudian para sahabat bertanya, “ Siapakah mereka itu wahai Rasulallah?” Lalu Rasulullah menjawab, “mereka itu adalah ma ‘ana ‘alaihi wa ashabihi”.[1]

Dalam  hadis tersebut Rasulullah SAW. Menjelaskan bahwa golongan yang selamat adalah golongan yang mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah dan para Sahabatnya.

Disebutkan dalam sumber lain bahwa:

Rasulullah jualah yang menjelaskan bahwa umat Muhammad Saw. Akan berpecah belah menjadi 73 golongan dan semuanya akan masuk neraka, kecuali yang satu ini ! Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab:

من كان على مثلى ما انا عليه اليوم و اصحبي

Man kana ‘ala mitsli maa ana ‘alaihil yauma wa ashaabi” yang artinya: “Siapapun yang menyerupai pegangan ku dan para sahabatku pada hari ini.”

Maka barang siapa yang iktikadnya menyamai Rasulullah Saw. Dan para sahabatnya, maka selamatlah dia dari adzab Allah dan akan masuk surga. Oleh karenanya kelompok ini disebut Alfirqotun Najiyah (kelompok yang selamat).[2]

Menurut saya, jika melihat dari sumber-sumber yang telah tersebut diatas maka ahlussunnah waljama’ah adalah suatu golongan yang senantiasa mengikuti dan berpegang teguh pada sunnah rasul dan juga apa yang ada pada sahabat-sahabatnya. yang mana golongan tersebut kembali pada ajaran islam yang sesungguhnya.

Dengan demikian kaum ahlus sunnah waljamaah ialah orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah SAW. Dan mengikuti jejak para sahabat beliau, tidak hanya para sahabat khulafaur raasyidin yang empat (Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali) tetapi juga mengikuti jejak para sahabat para sahabat yang lainnya, seperti saidati Aisyah ra. Ibnu Abbas, Abu Huraira dan lain-lainnya.

2. Lahirnya Ahlussunnah waljama’ah berikut tokoh-tokohnya

Alussunnah waljamaah adalah aliran teologi dalam islam yang timbul karena reaksi terhadap paham-paham golongan mu’tazilah. Paham mu’tazilah disebarkan pertama kali pada 100 H/ 718 M oleh washil bin ata’ yang mendapat pengaruh dalam masyarakat. Pengaruh ini mencapai puncaknya pada masa kholifah abbasiya, yaitu Al-ma’mum (198-218 H / 813-833 M), Al- mu’tasim (218-228 H / 833-842 M), dan A-wasiq (228-233 H / 842-847 M). pengaruh in semakin kuat ketikah aliran mu’tazila dijadikan mahzhab resmi yang di anut negara pada masa kholifah Al- ma’mum pada tahun 287.

kholifah Al-ma’mum menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Melaksanakn pemaksaan paham mu’tazilah pada seluruh jajaran pemerintahannya, bahkan seluru masyarakan islam. Dalam peristiwa ini banyak para ulama’ yang menjadi panutan masyarakat menjadi korbanpenganiayaan. Misalnya, Ahmad Bin Hanbal (Imam Hanbali). Karena sikap kuat dan konsistennya dalam mempertahankan prinsip bahwa al-qur’an bukan makhluk sebagaimana yang dianut oleh paham mu’tazilah.akan tetapi tindakan kholifah terhadap para ulama’ justru tidak mendapat simpati dari umat islam. Bahkan melihat kekejaman kholifah justru menimbulkan antipasti terhadap pemerintahan dan paham mu’tazila. Sikap Ahman bin Hanbal secara tegas dihadapan penguasa dan mendapat simpati dari masyarakat. Kholifah tidak berani menjatuhkan hukuman terhadah Ahmad bin Hanbal karena pengikutnya sangat luas,jika hukuman itu dilaksanakan maka akan terjadi kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Sebagaian besar ummat justru mendukung ketika kholifah Al-mutawakkil membatalkan paham mu’tazilah sebagai paham resmi negara.

Dalam keadaan yang demikian muncul tokoh intelektual dan para ulama besar islam Abu Hasan Al Asy’ari dengan teologi baru yaitu Ahlus Sunnah Waljama’ah yang berusaha menguraikan aqidah islamiyah sesuai dengan tingkat kemampuan ummat denagn tetap menjaga kemurnian ajaran islam yang sesuai dengan sunnah nabi dan para sahabatnya.  Al-Asy’ary. Awalnya teologi baru ini dikenalkan dengan Asy’ariyah atau al-Asy’ary. Paham yang dikembangkan oleh Al- Asy’ary banyak yang berbeda dengan paham –paham Mu’tazilah sekalipun Al-Asy’ary sendiri mulanya murid terpandai Al- Jubai’l,seorang tokoh mu’tazilah.

Selain itu, di Samarkand lahir teori baru yang didirikan oleh  bernama Abu Mansur Al-Maturidi.kemudian aliran teologi ini dikenal dengan nama Maturidiyah. Di Bukhara, Mauridiyah didirikan oleh Muhammad Al-Bazdawi. Namun antara kedua aliran teologi Maturidiyah tersebut ada perbedaan dalam beberapa paham. Aliran maturidiyah samarknad agak liberal dan lebih dekat dengan Mu’tazilah. Sedangkan maturidiyah Bukhara barsifat tradisional dan lebih dekat dengan Asy’ariyah.kedua aliran ini kemudian dikenal dengan golongan Ahlus Sunnah Waljamah.teologi Asy’ariya dianut oleh ImamMalik, Imam Syafi’I, Imam hanbali serta pengikut mereka

Ahlus Sunnah Waljamaah dinisbatkan pada aliran teologi Asy’aryah dan Maturidiyah karena mereka berpegang kuat pada sunnah nabi dan merupakan kelompok mayoritas dalam masyarakat. Istilah Ahlus Sunnah Waljamaah oleh Asy’ary juga disebut sebagai Ahl al- Haqq wa as-Asunnah dalam kitabnya yang berjudul  Maqalat al-islamiyyin (berisi tentang aliran-aliran teologi dan pandangan dalam islam).dala kitab lain, al ibanah (penjelasan), istilah ini mempergunakan kata-kata Ahl al- Haqq wa as-Asunnah.namun dari semua itu pemakainan yang lebih popular adalah Ahlus Sunnah Waljama’ah.[3]

  1. Ajaran-ajaran dalm Ahlussunnahn Waljama’ah.
  • Ajaran yang disepakati kebenarannya:
  • Ajaran yang disepakati sebagai penyimpangan:
  1. Ajaran Islam diambil dari Al-Qur’an, Hadist Nabi serta ijma’ (kesepakatan para sahabat/Ulama)
  2. Sifat-sifat Allah seperti Sama’, Bashar dan Kalam merupakan sifat-sifat Allah yang Qodim.
  3. Tidak ada yang menyerupai Allah baik dzat, sifat maupun Af’alnya.
  4. Allah adalah dzat yang menjadikan segala sesuatu kebaikan dan keburukan termasuk segala perbuatan manusia adalah kehendak Allah, dan segala sesuatu yang terjadi sebab Qodlo’ dan Qodharnya Allah.
  5. Perbuatan dosa baik kecil maupun besar tidaklah menyebabkan orang muslim menjadi kafir sepanjang tidak mengingkari apa yang telah diwajibkan oleh Allah atau menghalalkan apa saja yang diharamkan-Nya.
  6. Mencintai para sahabat Rasulullah merupakan sebuah kewajiban, termasuk juga meyakini bahwa kekhalifahan setelah Rasulullah secara berturut-turut yakni sahabat Abu Bakar Ash-shiddiq, Umar Bin Khattab, Ustman Bin ‘Affan dan Sayyidina ‘Ali Bin Abi Thalib.
  7. Bahwa Amar ma’ruf dan Nahi mungkar merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim termasuk kepada para penguasa.
  1. Mengingkari kekhalifahan Abu Bakar Ash-shiddiq dan Umar Bin Khattab kemudian menyatakan bahwa Sayyidina Ali Bin Abi Thalib memperoleh “Shifatin Nubuwwah” (sifat-sifat kenabian) seperti wahyu, ‘ismah dan lain-lain.
  2. Menganggap bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan keluar dari Islam seperti yang dianut oleh kalangan Khawarij, bahkan mereka mengkafirkan Sayyidina Ali karena berdamai dengan Mu’awiyah.
  3. Perbuatan dosa betapapun besarnya tidaklah menjadi masalah serta tidak menodai iman. Pendapat ini merupakan pendapat kaum murji’ah dan Abahiyyun.
  4. Melakukan pena’wilan terhadap Nash Al-Qur’an maupun Hadist yang tidak bersumber pada kaidah-kaidah Bahasa Arab yang benar. Seperti menghilangkan sifat-sifat ilahiyyah (Ta’thil) antara lain menghilangkan Al-Yad, Al-Istiwa’, Al-Maji’ padahal disebut secara sarih (jelas) dalah ayat suci Al-Qur’an, hanya dengan dalih untuk mensucikan Allah dari segala bentuk penyerupaan (tasybih)
  1. Pemikiran Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

 

  1. Menempatkan Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber inspirasi akidah dan sebagai bahan argumentasi atas segala macam bantahan yang datang. Maka dapat diartikan, bahwa Al-Qur’an maupun Hadits sebagai dasar metodologi berhujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah).
  2. Meletakkan tekstual nash (Dhawahur An Nushus) yang masih mungkin membutuhkan interpretasi dan masuk dalam kategori tasybih, tanpa harus dipaksakan masuk dalam tasybih secara murni. Dalam hal ini mempunyai dampak atau konsekuensi logis, bahwa ia tidak bisa lepas dari sebuah pemahaman kalau Allah mempunyai wajah, akan tetapi sangat berbeda dengan wajah semua mahkluk-Nya. Demikian pula mempunyai tangan yang tidak sama dengan tangan makhluk-nya.
  3. Memperbolehkan berhujjah dalam hal akidah, meskipun bersumber dari hadits-hadits ahad. Sebagai bukti, bahwa sebenarnya hadits ahad pun sah-sah saja sebagai pedoman. Secara tegas ia menjelaskan, betapa banyak hadits-hadits ahad yang dijadikan rujukan akidah (tentunya hadits ahad yang sahih).

[1] Ma’ruf Amin, Kerangka Berpikir Ahlussunnah Waljama’ah.hal.16

[2] Irfan Hilmy, Modernisasi Pesantren,Nuansa hal 4.

[3] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklpedi Islam, Cetakan Kesebelas, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta 2003, hal 54

APLIKASI PENDEKATAN SISTEM DALAM PEMBELAJARAN PAI

Standar

Menurut Oemar Hamalik, langkah-langkah perencanaan (desain) pembelajaran termasuk pelajaran PAI sebagai berikut:

Pada tahap perencanaan, komponen-komponen pembelajaran PAI yang harus direncanakan oleh guru PAI melalui pendekatan sistem antara lain:

  1. Menetapkan tujuan pembelajaran PAI

Sebagai langkah awal dalam desain pembelajaran, guru PAI harus menelaah kurikulum untuk mengetahui tujuan dan kompetensi mata pelajaran. Kemudian, ia mengembangkannya dalam bentuk silabus sebagai uraian program yang mencantumkan mata pelajaran, tingkat satuan pendidikan, semester, pengelompokan standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pokok, indikator, strategi pembelajaran, alokasi waktu, sumber dan media, serta sistem penilaian.

Secara umum, PAI bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara. Tujuan umum ini akan dijabarkan dalam kompetensi dasar pada setiap topik bahan ajar sesuai tingkat kelas dan semester siswa yang meliputi kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik.

  1. Menetapkan strategi pengorganisasian isi pelajaran PAI

Materi/bahan ajar dalam pembelajaran PAI adalah terdiri dari al-Qur’an dan al-Hadist, keimanan, syari’ah, ibadah, muamalah, akhlaq dan sejarah yang lebih menekankan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan dalam Islam. Semua materi ini harus direncanakan secara sistematik sesuai dengan kelas, semester, alokasi waktu, sumber belajar, media, dan karakteristik siswa yang akan menerima materi pelajaran. Disamping itu, pengorganisasian materi PAI harus dikelola dari yang mudah ke sulit, dari konkret ke abstrak, dari simpel ke kompleks.

  1. Merencanakan peran pendidik dan siswa dalam kegiatan pembelajaran

Pendidik dan siswa merupakan subyek utama yang sangat berperan dan saling membutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran PAI, sebab tanpa peran aktif keduanya tidak akan terjadi mobilisasi pembelajaran. Karena itu, guru harus mempu membangun kerjasama yang sinergis dengan siswa dalam semua aksi transformasi keilmuan dan sikap sehingga siswa dapat mencapai berbagai kompetensi pembelajaran yang tertuang dalam kurikulum.

  1. Menentukan strategi pembelajaran PAI

Strategi ini merupakan tehnik mengelola kegitan-kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam interaksi pembelajaran. Menentukan strategi ini mencakup pendekatan dan metode pembelajaran PAI yang akan digunakan agar sesuai sumber daya sekolah dan keadaan peserta didik. Di dalam pembelajaran PAI, banyak pendekatan dan metode yang dapat diterapkan, tetapi metode yang sering digunakan adalah metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, dan diskusi.

  1. Menetapkan tehnik evaluasi hasil pembelajaran PAI

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah diberikan oleh guru PAI. Penilaian pembelajaran harus direncanakan dengan tepat agar instrumen penilaiannya reabel dan valid untuk mengukur kemampuan siswa dengan mengacu pada penilaian yang berbasis kelas, yakni penilaian proses dan hasil ujian siswa.

  1. Memilih fasilitas, media, dan lingkungan pembelajaran PAI

Perencanaan terhadap fasilitas, media dan lingkungan pembelajaran PAI yang tepat akan mampu memberikan pengalaman belajar dan mempermudah peserta didik untuk menerima pelajaran yang disampaikan guru. Pemilihan fasilitas, media, dan lingkungan pembelajaran PAI dimaksudkan untuk menghemat dana, waktu, dan tempat atau guru dapat merencanakan kegiatan pembelajaran PAI sesuai dengan kondisi dan sumberdaya sekolah yang tersedia.[1]

Pada tahap pelaksanaannya, guru PAI harus melaksanakan proses pembelajarannya dengan berpedoman pada rancangan pembelajaran yang sudah disusun dengan pendekatan sistem. Bentuk rancangan yang dipergunkan saat ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memiliki beberapa komponen yang saling berkaitan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model satuan pelajaran ini merupakan istilah yang perkenalkan melalui KBK dan KTSP yang saat ini harus dipahami oleh semua guru.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana atau program yang disusun oleh guru untuk satu atau dua kali pertemuan untuk mencapai target satu kompetensi dasar. RPP diturunkan dari silabus yang telah disusun dan bersifat aplikatif di kelas. Secara sistematik, sebuah RPP memiliki komponen-komponen sebagai berikut; Identitas mata pelajaran, standar kompetensi mata pelajaran, kompetensi dasar setiap topik materi, dan indikator yang hendak dicapai setiap materi, pokok materi, kegiatan pembelajaran, media pembelajaran, sumber belajar, dan evlauasi. Semua komponen ini harus dirancang oleh guru PAI dalam bentuk RPP yang akan dijadikan pedoman selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran pada setiap semester.

Pada komponen kegiatan pembelajaran, sebuah RPP menyajikan langkah-langkah operasional yang akan dikerjakan oleh guru dan siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran ini terdiri dari tiga tahap, yaitu; awal, inti, dan akhir. Pada kegiatan awal, guru PAI membuka pelajaran dengan salam dan doa, menyiapakan kondisi kelas dan siswa, memberikan appersepsi, dan menyampaikan tujuan pembelajaran dari materi pertemuan yang berjalan. Pada kegiatan inti, guru PAI harus mampu mengelola aksi belajar siswa, sehingga berperan aktif mengikuti pembelajaran. Karena itu, guru PAI senatiasa memulai materi pelajaran dengan memberikan penjelasan singkat, memperkenalkan dan mencontohkan cara menggunakan media peraga, membagi siswa menjadi beberapa kelompok belajar, berdiskusi, memberikan tugas latihan, membuka sesi tanya jawab, meminta siswa memperagakan media melalui praktik kelas. Pada kegiatan akhir, guru PAI melaksanakan prosedur penutupan yang berorientasi pada pemantapan pemahaman siswa dan tindaklanjut materi. Kegiatan akhir ini mencakup; penyimpulan materi yang sudah dipelajari, memberikan tindaklanjut berupa tugas praktik/latihan dan PR serta mengakhiri pembelajaran dengan doa dan salam.

Pada tahap evaluasi, guru PAI merancang sistem penilaiannya dengan mengacu pada pendekatan sistem. Artinya, sebelum melaksanakan evaluasi hasil pembelajaran siswa, guru PAI harus menganalisa kembali beberapa komponen yang turut mempengaruhi prestasi belajar siswa seperti; tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan dan kompetensi belajar, ketepatan materi yang sudah disajikan dengan tujuan dan kompetensi tersebut, relevansi strategi pembelajaran yang sudah digunakan dengan media dan sumber belajar siswa, penguasaan siswa terhadap materi yang akan diujikan.

Guru PAI menilai kemampuan siswa dengan mengacu pada konsep penilaian berbasis kelas yang terfokus pada dua aspek penilaian, yaitu proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Penilaian proses dimulai sejak awal masa pembelajaran dengan mengukur perkembangan aspek afektif siswa melalui internalisasi dan penghayatan nilai beragama siswa selama di sekolah dan unjuk kerja psikomotorik yang sudah dihasilkan berupa aksi ibadah yang bersifat mahdhah, gambar islami, etika sosial dalam bergaul di sekolah ataupun di masyarakat.

Penilaian proses ini disebut juga dengan penilaian Authentic Assesment yang mengandung makna bahwa penilaian yang mengacu pada pembelajaran yang telah terjadi, menyatu ke dalam proses belajar mengajar dan memberikan kesempatan serta arahan kepada siswa untuk maju. Authentic Assesment sekaligus dipergunakan sebagai alat kontrol untuk melihat kemajuan siswa dan feedback bagi praktek pengajaran selanjutnya. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assesment tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar, tetapi dilakukan bersama-sama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.

Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assesment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan kepada sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.

Perencanaan penilaian autentik dalam pembelajaran PAI tentu akan menilai pengetahuan dan keterampilan (performance) yang diperoleh siswa selama mengikuti pembelajaran. Penilai tidak hanya guru, tetapi dapat juga teman atau orang lain. Karakteristik penilaian autentik:

  1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran PAI berlangsung.
  2. Bisa digunakan untuk ujian formatif maupun sumatif.
  3. Yang diukur keterampilan dan performansi beragama.
  4. Terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran PAI
  5. Dapat digunakan sebagai feed back pembelajaran PAI selanjutnya.

Penilaian hasil belajar siswa lebih cenderung mengukur kemajuan belajar kognitif siswa yang terkadang pencapain hasil nominalnya sering direkayasa dengan berbagai siasat oleh siswa ketika mengikuti ujian akhir. Kondisi yang perlu dipahami oleh setiap guru PAI dalam menilai hasil belajar siswa melalui berbagai bentuk item soal ini, yaitu ketepan dan kebenaran soal ujian yang berkaitan dengan tujuan dan kompetensi pelajaran PAI yang termuat dalam kurikulum/silabus dan materi ajar yang sudah dipelajari siswa selama mengikuti pembelajaran di kelas.

[1] Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005)12.

PENGERTIAN PENDEKATAN SISTEM DALAM PEMBELAJARAN PAI

Standar
  1. PENGERTIAN PENDEKATAN SISTEM DALAM PEMBELAJARAN PAI
  2. Pengertian Sistem

Kata sistem (system) dapat dimaknai sebagai  metode (method), rencana (plan), aturan (order), keteraturan (regularity), aturan, kebiasaan (rule),  (manner), (mode), susunan, rencana (scheme), jalan, cara (way), kebijakan (policy), kecerdasan (artifice), (operation), susunan, aturan (arrangement), rencana (program).[1]

Istilah sitem berasal dari bahasa Yunani systema yang mempunyai pengertian suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian (whole compoused with several parts),[2] atau hubungan diantara bagian-bagian secara teratur (an organized, function relationship among units or components).[3]

Sistem adalah kesatuan yang terdiri dari komponen-komponen yang terpadu dan berproses untuk mencapai tujuan (Gordon, 1990; Puxty, 1990). Bagian suatu sistem yang melaksanakan suatu fungsi untuk menunjang usaha pencapaian tujuan disebut komponen. Dengan demikian sistem terdiri dari komponen-komponen yang masing-masing komponen mempunyai fungsi khusus.[4] sistem secara umum diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dalam usahanya mencapai sebuah tujuan. Sehingga sistem tidak hanya mencakup aspek materi, melainkan juga masuk di dalamnya berupa prosedur, fasilitas, media dll.

Secara khusus, ada beberapa definisi tentang sistem yang diberikan oleh para ahli, yaitu:

  • Menurut Lembaga Administrasi Negara: “sistem pada hakikatnya adalah seperangkat komponen, elemen, yang satu sama lain saling berkaitan, pengaruh-mempengaruhi dan saling tergantung, sehingga keseluruhannya merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi atau suatu totalitas, serta “mempunyai peranan atau tujuan tertentu.”[5]
  • Menurut Tatang M. Amirin, sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh untuk mencapai suatu tujuan tertentu.[6]
  • Menurut Harjanto, “pendekatan sistem adalah merupakan jumlah keseluruhan dari bagian-bagian yang saling bekerja sama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasarkan atas kebutuhan tertentu.”[7]

Dari berbagai pengertian di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa sistem adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling berintegrasi, saling berfungsi secara kooperaatif dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya dalam usaha mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, maka dalam sistem terdapat beberapa komponen (unsur), yaitu: ada kegiatan dengan menunjuk fungsi dari setiap komponen yang terkait, adanya hubungan kerjasama yang saling bergantungan antar komponen, adanya keterpaduan/kesatuan organis antara komponen, adanya keluasan sistem (ada kawasan di dalam sistem dan di luar sistem), dan gerak dinamis dari semua fungsi kompo­nen tersebut yang mengarah pada pencapaian tuju­an sistem yang telah ditetapkan.

  1. Pengertian Pendekatan Sistem Dalam Pembelajaran PAI

Pendekatan sistem pada mulanya digunakan di bidang teknik mesin (engineering) untuk merancang sistem-sistem elektronik, mekanik dan militer. Kemudian pendekatan sistem melibatkan sistem manusia mesin, dan selanjutnya dilaksanakan dalam bidang keorganisasian dan manajemen. Pada akhir tahun 1950 dan awal 1960-an mulai diterapkan dalam bidang pendidikan dan pelatihan.[8]

Pendekatan sistem pembelajaran PAI adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling berintegrasi, saling berfungsi secara kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan generasi-genarasi yang beriman dan bertakwa.

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Menurut Tafsir (2002), bagi umat Islam, dan khususnya dalam pendidikan Islam, kompetensi iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia tersebut sudah lama disadari kepentingannya, dan sudah diimplementasikan dalam lembaga pendidikan Islam. Dalam pandangan Islam, kompetensi iman dan takwa (imtak) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), juga akhlak mulia diperlukan oleh manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.

Jadi, dalam pandangan Islam, peran kekhalifahan manusia dapat direalisasikan melalui tiga hal, yaitu:

  • landasan yang kuat berupa iman dan takwa
  • Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
  • akhlak mulia

Dari beberapa pendapat diatas, maka Pendekatan sistem pembelajaran PAI adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling berintegrasi, saling berfungsi secara kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan generasi-genarasi yang berwawasan luas, beriman dan bertakwa serta memiliki akhlak yang mulia.[9]

[1] Devlin, Joseph, A Dictionary of Synonyms and Antonyms (Bandung: Angkasa, 1961) 307.

[2] Shrode, William, and Dan Voich, Organization and Managmenet; Basic Systems Concepts, (Malaysa : Irwin Book, Co., 1974) 115.

[3] Awad, Elias M, System Analyziz and Design, (Illinois :  Richard D. Irwin, Homewood, 1979) 4.

[4] Sadiman, Arif Sukandi, Beberapa Aspek Pengembangan Sumber Belajar (Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa, 1988), 13.

[5] Lembaga Administrasi Negara RI, Sistem Administrasi Negara REpublik Indonesia, (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung, 1997), 1.

[6] Tatang M Amirin,. Pokok-Pokok Teori Sistem. (Jakarta: Rajawali Press), 10.

[7] Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), 46.

[8] Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002) 4.

[9] Drs. Darwyn Syah, M.pd., dkk., Perencanaan Sistem Pengajaran PAI, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007). 61.


METODE PEMBINAAN AKHLAK

Standar

 

Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad SAW yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Perhatian islam yang demikian terhadap pembinaan akhlak ini dapat pula dilihat dari perhatian islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik, dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin.[1]

Perhatian islam dalam pembinaan akhlaq selanjutnya dapat dianalisis pada muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran islam. Ajaran islam tentang keimanan misalnya sangat berkaitan erat dengan mengerjakan serangkaian amal shaleh dan perbuatan terpuji. Iman yang tidak disertai dengan amal shaleh dinilai sebagai iman yang palsu, bahkan dianggap sebagai kemunafikan. Dalam Al-Qur’an kita misalnya membaca ayat berbunyi:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ أَمَنَّا بِاللهِ وَ بِالْيَوْمِ الْأَخِرِ وَمَاهُمْ بِمُعْمِنِيْنَ

Artinya: Dan diantara manusia (orang munafik) itu ada orang yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hadir, sedang yang sebenarnya mereka bukan orang yang beriman.” (QS.Al-Baqarah: 8-9)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman kepada Allah dan rasulNya, kemudian itu mereka tidak ragu-ragu dan senantiasa berjuang dengan harta dan dirinya di jalan Allah. Itulah orang-orang yang benar (imanNya). (QS.Al-Hujurat: 15)

Ayat-ayat diatas menunjukkan dengan jelas bahwa iman yang dikehendaki islam bukan iman yang hanya sampai pada ucapan dan keyakinan tetapi iman yang disertai dengan perbuatan dan akhlak yang mulia, seperti tidak ragu-ragu menerima ajaran yang dibawa rasul, mau memanfaatkan harta dan dirinya untuk berjuang di jalan Allah dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa keimanan harus membuahkan akhlak, dan juga memperlihatkan bahwa islam sangat mendambakan terwujudnya akhlak yang mulia.

Pembinaan akhlak juga terintegrasi dengan pelaksanaan rukun iman dan islam. Hasil analisis Muhammad Al-Ghazali terhadap rukun islam yang lima dalam menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam rukun islam yang lima itu terkandung konsep pembinaan akhlak. Rukun islam yang pertama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat ini mengandung pernyataan bahwa selama hidupnya manusia hanya tunduk kepada aturan dan tuntutan Allah. Orang yang tunduk dan patuh pada aturan Allah dan Rasulnya sudah dapat dipastikan akan menjadi orang yang baik.

Selanjutnya rukun islam yang kedua adalah mengerjakan sholat lima waktu. Sholat yang dikerjakan akan membawa pelakunya terhindar dari perbuatan yang keji dan munkar. (QS.Al-Ankabut: 45) dalam hadits qudsi dijelaskan pula sebagai berikut:

إِنَّمَا اَتَقَبَّلَ الصَّلَاةُ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعَظَمَتِيْ وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَلَى خَلْقِى وَلَمْ يَبِتْ مُصِرًا عَلَى مَعْصِيَتِيْ وَ قَطَعَالنَّهَارَ فِى ذِكْرِىْ وَرَحِمَ الْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَالْأَرْمِلَةَ وَرَحِمَ الْمُصَابَ (رواه بزّر)

Artinya: Bahwasannya Aku menerima sholat hanya dari orang yang bertawadhu’ dengan sholatnya kepada keagunganKu yang tidak terus menerus berdosa, menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk dzikir kepadaKu, kasih sayang kepada fakir miskin, ibnu sabil, janda serta mengasihi orang yang mendapat musibah. (HR. Al-BAzzar)

Pada hadits tersebut sholat diharapkan dapat menghasilkan akhlak yang mulia, yaitu bersikap tawadhu’, mengagungkan Allah, berdzikir, membantu fakir miskin, ibnu sabil, janda dan orang yang mendapat musibah. Selain itu sholat (khususnya jika dilaksanakan berjama’ah) menghasilkan serangkaian perbuatan seperti kesehajaan, imam dan makmum sama-sama berada dalam satu tempat, tidak saling berebut untuk menjadi imam, jika imam batal dengan rela untuk digantikan yang lainnya, selesai sholat saling berjabat tangan, dan seterusnya. Semua ini mengandung ajaran islam.

Selanjutnya dalam rukun islam yang ketiga, yaitu zakat juga mengandung didikan akhlak yaitu agar orang yang melakukannya dengan membersihkan dirinya dari sifat kikir, mementingkan diri sendiri, dan membersihkan hartanya dari hak orang lain, yaitu hak fakir miskin dan seterusnya. Muhammad Al-Ghazali mengatakan bahwa hakikat zakat adalah untuk membersihkan jiwa dan mengangkat derajat manusia ke jenjang yang lebih mudah.[2]

Pelaksanaan zakat yang berdimensi akhlak yang bersifat sosial ekonomis ini dipersubur lagi dengan pelaksanaan shadaqah yang bentuknya tidak hanya materi, tetapi juga nonmateri. Hadis nabi di bawah ini menggambarkan shodaqah dalam hubungannya dengan akhlak yang mulia.

تَبَسُمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهْيُكَ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِى أَرْضِ الضَّلَالِ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْأَذَى وَالشَّوْكَ وَالعِظَمَ عَنِ الطَّرِيْقِ لَكَ صَدَقَةٌ (رواه بخارى)

Artinya: Senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah shodaqah dan amar ma’ruf serta nahi munkar juga shodaqah dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu shodaqah dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu, duri, atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu juga merupakan shodaqah. (HR. Bukhari)

Begitu juga islam mengajarkan ibadah puasa sebagai rukun yang keempat bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum dalam waktu yang terbatas tetapi lebih dari itu merupakan latihan menahan diri dari keinginan melakukan perbuatan keji yang dilarang. Dalam hubungan ini Nabi mengingatkan:

مًنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ غِى اَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخارى)

Siapa yang tidak suka meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan yang palsu, maka Allah tidak membutuhkan diri padanya, puasa meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Al-Bukhari)

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأُكُلِ وَالشُّرْبِ وَإِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَاثِ فَإِنْ سَابَكَ اَحَدٌ اَوْ جَهَلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ (رواه إبن حزيمة)

Bukanlah puasa itu hanya menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi bahwasanya puasa itu menahan diri dari perkataan-perkataan kotor dan omongan-omongan yang keji. Kalau ada seoreang datang kepadamu memarahi dan mengatakan engkau bodoh (dan sebagainya), katakanlah “aku sedang berpuasa”. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Selanjutnya rukun islam yang kelima adalah ibadah haji. Dalam ibadah haji inipun nilai pembinaan akhlaknya lebih besar lagi dibandingkan dengan nilai pembinaan akhlak yang ada pada ibadah dalam rukun islam lainnya. Hal ini bisa dipahami karena ibadah haji ibadah dalam islam bersifat komprehensif yang menuntut persyaratan yang banyak, yaitu disamping harus menguasai ilmunya, juga harus sehat fisiknya, ada kemauan keras, bersabar dalam menjalankannya dan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, serta rela meninggalkan tanah air, harta kekayaan dan lainnya. Hubungan ibadahhaji dengan pembinaan akhlak ini dapat dipahami dari ayat yang berbunyi:

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor (jorok), berbuat fasik dan berbantah-bantahan didalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan ‘niscaya Allah mengetahuinya berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqarah:197)

Berdasarkan analisis yang didukung dali-dalil Al-Qur’an dan Al-hadis tersebut diatas, kita dapat mengatakan bahwa islam sangat memberi perhatian yang besar terhadap pembinaan akhlak termasuk cara-caranya. Hubungan antara rukun iman dan rukun islam terhadap pembinaan akhlak sebagaimana digambarkan diatas, menunjukkan bahwa pembinaan akhlak yang ditempuh islam adalah menggunakan cara atau sistem yang integrated, yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana peribadatan dan lainnya secara simultan untuk diarahkan pada pembinaan akhlak.

Cara lain yang dapat ditempuh untuk pembinaan akhlak ini adalah pembiasaan yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu. Berkenaan dengan ini imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kepribadian manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembiasaan. Jika manusia membiasakan berbuat jahat, maka ia akan menjadi orang jahat.

Untuk ini Al-Ghazali menganjurkan agar akhlak dianjurkan, yaitu dengan cara melatih jiwa kepada pekerjaan atau tingkah laku yang mulia. Jika seseorang menghendaki agar ia menjadi pemurah, maka ia harus dibiasakan dirinya melakukan pekerjaan yang bersifat pemurah, hingga murah hati dan murah tangan itu menjadi tabiatnya yang mendarah daging.[3]

Dalam tahap-tahap tertentu, pembinaan akhlak, khususnya akhlak lahiriyah dapat pula dilakukan dengan cara paksaan yang lama kelamaan tidak lagi terasa dipaksa. Seseorang yang ingin menulis dan mengatakan kata-kata yang bagus misalnya, pada mulanya ia harus memaksakan tangan dan mulutnya menuliskan atau mengatakan kata-kata dan huruf yang bagus. Apabila pembiasaan ini sudah berlangsung lama, maka paksaan tersebut sudah tidak terasa lagi sebagai paksaan.

Cara ini yang tak kalah ampuhnya dari cara-cara diatas dalam hal pembinaan akhlak ini adalah melalui keteladanan. Akhlak yang baik tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran, intruksi dan larangan, sebab tabiat jiwa untuk menerima keutamaan itu tidak cukup hanya seorang guru mengatakan kerjakan ini dan jangan kerjakan itu. Menanamkan sopan santun memerlukan pendidikan yang panjang dan harus ada pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidak akan sukses melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata.[4] Cara yang demikian itu telah dilakukan oleh rasulallah saw. Keadaan ini dinyatakan dalam ayat yang berbunyi:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat contoh teladan yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi orang yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi orang yang mengharapkan keridhoan Allah dan (berjumpa dengannya di) hari kiamat dan selalu banyak menyebut nama Allah. (QS.Al-Ahzab: 21)

Senada dengan hal itu, Abdullah Nasih Ulwan berpendapat bahwa seorang pendidik barangkali akan merasa mudah mengkomunikasikan pesannya secara lisan. Namun, anak akan merasa kesulitan dalam memahami pesan yang disampaikannya.[5] Dengan demikian, keteladanan merupakan faktor dominan dan berpengaruh bagi keberhasilan pendidikan dan metode pendidikan yang paling  membekas pada diri peserta didik.

Tak hanya dengan teladan, metode nasehat juga sangat dibutuhkan dalam pembinaan akhlak. Dengan metode ini, seseorang dapat menanamkan pengaruh yang baik ke dalam jiwa seseorang. Cara yang dimaksud ialah: Pertama, nasehat hendaknya lahir dari hati yang ikhlas. Nasehat yang disampaikan secara ikhlas akan mengena dalam tanggapan pendengarnya. Kedua, nasehat hendaknya berulang-ulang agar nasehat itu meninggalkan kesan sehingga orang yang dinasehati tergerak untuk mengikuti nasehat itu.[6] Allah Swt. pun menjelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ..

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..

Selain itu pembinaan akhlak dapat pula ditempuh dengan cara senantiasa menganggap diri ini sebagai manusia yang banyak kekurangannya dari pada kelebihannya dalam hubungan ini ibnu sina mengatakan jika seseorang menghendaki dirinya berakhlak utama, hendaknya ia lebih dahulu mengetahui kekurangan dan cacat yang ada dalam dirinya, dan membatasi sejauh mungkin untuk tidak berbuat kesalahan sehingga kecacatannya itu tidak terwujud dalam kenyataan.[7] Namun ini bukan berarti bahwa ia menceritakan dirinya sebagai orang yang paling bodoh, paling miskin dan sebagainya di hadapan orang-orang, dengan tujuan justru merendahkan orang lain. Hal yang demikian dianggap tercela dalam islam.

Pembinaan akhlak secara efektif dapat pula dilakukan dengan memperhatikan faktor kejiwaan sasaran yang akan dibina. Menurut hasil penelitian para psikolog bahwa kejiwaan manusia berbeda menurut perbedaan tingkat usia. Pada usia kanak-kanak misalnya lebih menyukai kepada hal-hal yang bersifat rekreatif dan bermain. Untuk itu ajaran akhlak dapat disajikan dalam bentuk permainan. Hal ini pernah dilakukan oleh para ulama’ di masa lalu. Mereka menyajikan ajaran akhlak lewat syair yang berisi sifat-sifat Allah dan Rasul, anjuran beribadah dan berakhlak mulia dan lain-lainnya. Syair tersebut dibaca pada saat menjelang dilangsungkannya pengajian, ketika akan melaksanakan sholat lima waktu dan acara-acara peringatan hari-hari besar islam.[8]

Selain metode-metode tersebut, terdapat pula metode ‘ibrah. ‘Ibrah menurut An-Nahlawi yang dikutip oleh Ahmad Tafsir, ibrah adalah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi dengan menggunakan nalar yang menyebabkan hati mengakuinya.[9]

Tujuan metode ini adalah mengantarkan manusia kepada kepuasan pikir tentang perkara keagamaan yang bisa menggerakkan, mendidik, atau menumbuhkan perasaan keagamaan. Adapun pengambilan ‘ibrah bisa dilakukan melalui kisah-kisah teladan, fenomena alam atau peristiwa yang terjadi baik di masa lalu atau masa sekarang. Allah Swt. Menegaskan dalam firmanNya:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ…

Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal… (QS. Yusuf: 111)

Dalam skripsi ini, metode pembinaan akhlak yang digunakan ialah metode ibrah. Melalui kisah Nabi Ya’kub as, Nabi Yusuf as. dan saudara-saudaranya yang disajikan di dalam Al-Qur’an Surah Yusuf, peneliti diharapkan dapat memahami kandungan ayatnya dan mengambil ibrah dari perjalanan kisah mereka.

[1] Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim. (terj.) Moh. Rifa’I dari judul asli Khuluq Al-Muslim, (Semarang: Wicaksana 1993), cet. IV, h.13

[2] Ibid., h.12

[3] Imam Al-Ghazali, Kitab Al-Arba’in fi Ushul Al-din, (Kairo: Maktabah Al-Hindi.t.t.) h.190-191. Lihat pula Asmaran, As, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Rajawali Pers, 1992), cet-1, h.45

[4] Ibid., h.16

[5] Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, terj. Jamaludin Miri, Jilid II, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), h.178

[6] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h.146

[7] Ibnu Sina, Ilmu Akhlak, (Mesir: Dar Al-Ma’arif.t.t.) h.202-203

[8] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, h.156-164

[9] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h.145

FAKTOR PEMBENTUK AKHLAK

Standar

 

Berbicara masalah pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah bentukan akhlak. Muhammad Athiyah Al-Abrasyi misalnya mengatakn bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan islam.[1] Demikian pula Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap muslim yaitu untuk menjadi hamba Allah, yaitu hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepadanya dengan memeluk agama islam.[2] Berikut ini faktor-faktor pembentuk akhlak menurut Mahjuddin:

  1. Faktor Pembawaan Naluriyah (Gharizah atau Instink).

Sebagai makhluk biologis, ada faktor bawaan sejak lahir yang menjadi pendorong perbuatan setiap manusia. Faktor itu disebut dengan naluri atau tabiat menurut J.J. Rousseau. Lalu Mansur Ali Rajab menamakannya dengan tabiat kemanusiaan (al tabi’ah al-insaniyyah). Ia menyetir pendapat Plato yang menyatakan; bahwa tabiat (bawaan) baik dengan bawaan buruk dalam diri manusia sangat berdekatan, karena itu sering muncul perbuatan baiknya dan perbuatan buruknya. Lalu menyetir lagi pendapat J.J. Rousseau (1712-1778) dari Perancis dengan mengatakan: Sesungguhnya anak yang baru lahir memiliki pembawaan baik, lalu sifat buruknya muncul karena pengaruh dari lingkungannya (pergaulannya).[3]

Dengan pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa kecenderungan naluriyah dapat dikendalikan oleh akhlaq atau tuntunan agama, sehingga manusia dapat mempertimbangkan kecenderungannya; apakah itu baik atau buruk. Gharizah atau naluri tidak pernah berubah sejak manusia itu lahir, tetapi pengaruh negatifnya yang bisa dikendalikan oleh faktor pendidikan atau latihan. Karena faktor naluri ini sangat terkait dengan nafsu (ammarah dan muthmainnah), maka sering ia dapat membawa manusia kepada kehancuran moral, dan sering pula menyebabkan manusia mencapai tingkat yang lebih tinggi, dengan kemampuan nalurinya. Tatkala naluri cenderung kepada perbuatan baik, maka akal dan tuntunan agama yang memberikan jalan seluas-luasnya, untuk lebih meningkatkan intensitas perbuatan itu. Maka disinilah perlunya manusia memiliki agama, sebagai pengendali dan penuntun dalam hidupnya.[4]

  1. Faktor sifat-sifat keturunan (al-Warithah)

Mansur Ali Rajab mengatakan, bahwa sifat-sifat keturunan adalah sifat-sifat (bawaan) yang diwariskan oleh orang tua kepada keturunannya (anak dan cucunya).[5]

Warisan sifat-sifat orang tua kepada keturunannya ada yang sifatnya langsung (mubasharah) dan ada juga yang tidak langsung (gairu mubasharah), misalnya sifat-sifat itu tidak langsung turun kepada anaknya, tetapi bisa turun kepada cucunya. Sifat-sifat ini juga kadang dari ayah atau ibu, dan kadang anak atau cucu mewarisi kecerdasan (sifah al-‘aqliyah) dari ayahnya atau kakeknya, lalu mewarisi sifat baik (sifah al-khuluqiyaah) dari ibunya atau neneknya, atau dengan sebaliknya.

Di samping adanya sifat bawaan anak sejak lahir (naluri dan sifat keturunan), sebagai potensi dasar potensi dasar untuk mempengaruhi perbuatan setiap manusia, dan juga faktor lingkungan yang mempengaruhinya; misalnya pendidikan dan tuntunan agama. Faktor ini, disebut faktor usaha (al-muktasabah) dalam ilmu akhlaq. Semakin besar pengaruh faktor pendidikan atau kemungkinan warisan sifat-sifat buruk orang tua dapat mempengaruhi sikap dan perilaku anaknya.

Kemampuan ilmu (kognitif), sikap kejiwaan yang baik (afektif) dan keterampilan yang didasari oleh ilmu dan sikap baik manusia (psikomotorik) yang telah diperoleh dari proses pendidikan dan tuntunan agma, termasuk kemampuan dan sifat-sifat yang telah diusahakan oleh manusia (sifah al-muktasabah). Maka disinilah peranan orang tua di rumah tangga, guru di sekolah, dan tokoh agama di masyarakat, untuk membentuk manusia yang beragama, berilmu, dan berakhlaq mulia.

  1. Faktor Lingkungan Dan Adat Istiadat

Pembentukan akhlaq manusia, sangat ditentukan oleh lingkungan alam dan lingkungan sosial (faktor adat kebiasaan), yang dalam pendidikan disebut dengan faktor empiris (pengalaman hidup manusia), terutama sekali dipelopori oleh John Lock.

Pertumbuhan dan perkembangan manusia, ditentukan juga oleh faktor dari luar dirinya; yaitu faktor pengalaman yang disengaja, termasuk pendidikan dan pelatihan, sedangkan yang tidak disengaja, termasuk lingkungan alam dan lingkungan sosial. Lingkungan alam disebut “al-biah” dalam ilmu akhlaq, sedangkan lingkungan sosial disebut dengan “al-‘adah” dalam ilmu akhlaq.

Paham empirisme ini, berkembang luas di dunia Barat, terutama di Amerika Serikat, yang menjelma menjadi liran behaviorisme dalam ilmu pendidikan. Sedangkan dalam ilmu akhlaq, Mansur Ali Rajab mengemukakan pendapat J.J Rosseau yang mengatakan, bahwa faktor dalam diri manusia, termasuk pembawaannya, selalu membentuk akhlaq baik manusia, sedangkan faktor dari luar, termasuk lingkungan alam dan lingkungan sosialnya; ada kalanya berpengaruh baik, dan ada kalanya berpengaruh buruk. Ketika manusia lahir di ligkungan yang baik, maka pengaruhnya kepada pembentukan akhlaqnya juga baik, dan ketika ia lahir di lingkungan yang kurang baik, maka pengaruhnya juga menjadi tidak baik. Maka disinilah pendidikan dan bimbingan akhlaq sangat diperlukan, untuk membentuk dan mengembangkan akhlaq manusia. Ini diakui oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulum al-Din yang mengaatakan: seandainya akhlaq manusia tidak bisa diubah, maka tidak ada gunanya memberikan pesan-pesan, nasehat-nasehat dan pendidikan kepada manusia.[6]

  1. Faktor Agama (Kepercayaan)

Agama bukan saja kepercayaan yang harus dimiliki oleh setiap manusia, tetapi ia harus berfungsi dalam dirinya, untuk menuntun segala aspek kehidupannya; misalnya berfungsi sebagai sistem kepercayaan, sistem ibadah dan sistem kemasyarakatan yang terkait dengan nilai akhlaq.[7]

[1] Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, h.15

[2] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, h.48-49

[3] Mansur Ali Rajab, Taammulat Fi al-Falsafah al-Akhlaq, (Qairo: al-Injiliwi al-Misriyyah, 1961 M), h.96

[4] Mahjuddin, Akhlak Tasawuf II, h.31-32

[5] Mansur Ali Rajab, Taammulat Fi al-Falsafah al-Akhlaq, h.367

[6] Al-Ghazali, Juz III, h.54

[7] Mahjuddin, Akhlak Tasawuf II, h.33

DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN AKHLAK

Standar

A. DASAR PENDIDIKAN AKHLAK

Islam merupakan agama yang sempurna, sehingga setiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki dasar pemikiran, begitu pula dengan pendidikan akhlak. Tidak diragukan lagi bahwa pendidikan akhlak dalam agama Islam bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an sendiri sebagai dasar utama dalam Agama Islam telah memberikan petunjuk pada jalan kebenaran, mengarahkan kepada pencapaian kebahagiaan di dunia dan akhirat.[1] Di antara ayat yang menyebutkan pentingnya akhlak adalah dalam surat Ali Imran ayat 104:

Dalam ayat tersebut Allah SWT menganjurkan hamba-Nya untuk dapat menasehati, mengajar, membimbing dan mendidik sesamanya dalam hal melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan. Dengan demikian Allah telah memberikan dasar yang jelas mengenai pendidikan akhlak yang mana merupakan suatu usaha untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar berbudi pekerti luhur dan berakhlaqul karimah.

Selain menyebutkan pentingnya pendidikan akhlak, Al-Qur’an pun menunjukkan siapa figur yang harus dicontoh dan dijadikan sebagai uswatun hasanah. Sebagaimana firman-Nya dalam QS.Al-Ahzab: 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً -٢١-

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah merupakan figur utama sebagai manusia dan utusan Allah yang patut dijadikan panutan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Allah pun dalam ayat lain memuji kepribadian Rasulullah SAW sebagaimana firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ -٤-

Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)

Dasar pentingnya akhlak dalam As-Sunnah dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

Dari Abu Hurairah r.a berkata: Bahwasanya Raasulullah SAW bersabda:

” إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق ”

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. (HR. Ahmad dan Baihaqi)[2]

Dari ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah Saw. di atas menunjukkan bahwa dasar dan pijakan pendidikan akhlak adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dari dasar dan pedoman itulah dapat diketahui kriteria suatu perbuatan itu baik ataupun buruk.

B. TUJUAN PENDIDIKAN AKHLAK

  1. Tujuan Akhlak

Tujuan akhlak ialah hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna, dan membedakannya dari makhluk-makhluk lainnya. Akhlak hendak menjadikan orang berakhlak baik, bertindak baik terhadap manusia, sesama makhluk dan tuhan. Pelajaran akhlak atau ilmu akhlak bertujuan mengetahui perbedaan-perbedaan perangai manusia yang baik maupun yang jahat, agar manusia dapat memegang teguh perangai-perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai yang jahat, sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat, tidak saling membenci, curiga mencurigai antara satu sama lain, tidak ada perkelahian dan peperangan atau bunuh-bunuhan sesama hamba Allah.

Yang hendak dikendalikan oleh akhlak ialah tindakan lahir. Akan tetapi oleh karena tindakan lahir itu tidak dapat terjadi bila tidak didahului oleh gerak batin atau tindakan hati, maka tindakan batin dan gerak-gerik hati termasuk lapangan yang diatur oleh akhlak. Tidak akan terjadi perkelahian kalau tidak didahului oleh tindakan batin atau garak-garik hati, yakni benci-mambenci (hasad). Oleh karena itu maka setiap insan diwajibkan dapat menguasai batinnya atau mengendalikan hawa nafsunya karena ialah yang merupakan motor dari segala tindakan lahir.

Aristoteles berkata, “Mengenai sesuatu yang berhubungan dengan keutamaan orang tidak hanya mengetahui, tetapi mesti ditambah dengan latihan untuk memiliki dan mempergunakannya atau menciptakan cara lain yang dapat menjadikan kita orang-orang yang utama. Kalau khotbah-khotbah dan kitab-kitab itu sanggup dengan sendirinya membuat kita menjadi orang baik-baik, maka pasti sebagaimana kata teognis setiap orang mau membelinya, walaupun dengan harga yang semahal-mahalnya. Tapi sayang seluruh kesanggupan dari dasar-dasar ilmu akhlak ini hanyalah memperkuat kemauan untuk tetap dalam kebaikan dan membuat hati mulia dengan fitrahnya utama”.

  1. Tujuan Pendidikan Akhlak

Tujuan utama dari pendidikan Islam ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral bukan hanya sekedar memenuhi otak murid-murid dengan ilmu pengetahuan tetapi tujuannya ialah mendidik akhlak dengan memperhatikan segi-segi kesehatan, pendidikan fisik dan mental, perasaan dan praktek serta mempersiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat.[3]

Adapun tujuan pendidikan akhlak secara umum yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

  1. Tujuan pendidikan akhlak menurut Omar Muhammad Al Thoumy Al- Syaibani “Tujuan tertinggi agama dan akhlak ialah menciptakan kebahagiaan dua kampung (dunia dan akherat), kesempurnaan jiwa bagi individu, dan menciptakan kebahagiaan, kemajuan, kekuatan dan keteguhan bagi masyarakat”.[4] Pada dasarnya apa yang akan dicapai dalam pendidikan akhlak tidak berbeda dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri.
  2. Tujuan pendidikan akhlak menurut M. Athiyah al Abrasyi “Tujuan pendidikan budi pekerti adalah membentuk manusia yang berakhlak (baik laki-laki maupun wanita) agar mempunyai kehendak yang kuat, perbuatan-perbuatan yang baik, meresapkan fadhilah (kedalam jiwanya) dengan meresapkan cinta kepada fadhilah (kedalam jiwanya) dengan perasaan cinta kepada fadhilah dan menjauhi kekejian (dengan keyakinan bahwa perbuatan itu benar-benar keji).[5]
  3. Tujuan pendidikan akhlak menurut Mahmud Yunus “Tujuan pendidikan akhlak adalah membentuk putra-putri yang berakhlak mulia, berbudi luhur, bercita-cita tinggi, berkemauan keras, beradab, sopan santun, baik tingkah lakunya, manis tutur bahasanya, jujur dalam segala perbuatannya, suci murni hatinya”.[6]

Tujuan di atas selaras dengan tujuan pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20/Th. 2003, bab II, Pasal 3 dinyatakan bahwa: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.[7]

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tersebut mengisyaratkan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan adalah sebagai usaha mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu pendidikan dan martabat manusia baik secara jasmaniah maupun rohaniah.

[1] Oemar al-Taomy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam (terj) Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h.346

[2] Imam Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Imam Ahmad, Juz II, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, t.t), h.504

[3] M. Athiyah al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, h.109

[4] Omar Muhammad al-Toumy Al-Syaibany, Falsafat Pendidikan Islam, h.346

[5] M. Athiyah Al Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, h.108

[6] Mahmud Yunus, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: Hida Karya Agung, 1978), Cet. II, h.22

[7] Undang-undang RI, Sistem Pendidikan Nasional, (Semarang: Aneka Ilmu, 2003), Cet. VII, h.7

KAJIAN TEORI PENDIDIKAN AKHLAK

bear_and_masha_images
Standar

PENGERTIAN PENDIDIKAN AKHLAK

  1. Pengertian Pendidikan

Sebelum melangkah lebih jauh dalam memahami pengertian pendidikan akhlak terlebih dahulu kita pelajari pengertian pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan dan lebih sistematis dalam memahami arti tersebut. Pendidikan merupakan proses perubahan atau pengembangan diri anak didik dalam segala aspek kehidupan sehingga terbentuklah suatu kepribadian yang utuh (insan kamil) baik sebagai makhluk sosial, maupun makhluk individu, sehingga dapat beradaptasi dan hidup dalam masyarakat luas dengan baik. Termasuk bertanggung jawab  kepada diri sendiri, orang lain, dan Tuhannya.[1] Dalam Islam pada mulanya pendidikan di sebut dengan kata ta’dib. Adapun kata ta’dib mengacu pada pengertian yang lebih tinggi dan mencakup unsur-unsur pengetahuan (“ilm”), pengajaran (“ta’lim”), dan pengasuhan yang baik (“tarbiyah”). Kata ta’dib untuk pengertian pendidikan terus dipakai sepanjang masa semenjak zaman nabi sampai masa kejayaan Islam , hingga semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan manusia disebut “ta’dib”. Kemudian ketika para ulama’ menjurus kepada bidang spesialisasi dalam ilmu pengetahuan, maka kata adab menyempit, ia hanya dipakai untuk merujuk kepada kesusastraan dan etiket, konsekuensinya “ta’dib” sebagai istilah pendidikan hilang dari peredaranya, dan tidak dikenal lagi, sehingga ketika para ahli didik Islam bertemu dengan istilah “education” pada abad modern, mereka langsung menterjemahkannya dengan “tarbiyah”. Dalam tarbiyah terdiri dari empat unsur : Pertama : menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh. Kedua     : mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam. Ketiga     : mengarahkan   seluruh   fitrah   dan    potensi   menuju kepada  kebaikan dan kesempurnaan yang bermacam-macam. Keempat : proses ini dilakukan bertahap.[2] Dalam kerangka pendidikan, istilah ta’dib mengandung arti: ilmu, pengajaran  dan penguasaan yang baik. Tidak ditemui  unsur penguasaan atau pemilikan terhadap objek atau anak didik, di samping tidak pula menimbulkan interpretasi mendidik makhluk selain manusia, misalnya binatang dan tumbuh-tumbuhan. Karena menurut konsep Islam yang bisa bahkan harus dididik hanyalah makhluk manusia. Dan akhirnya, Al Attas menekankan pentingnya pembinaan tata krama, sopan  santun, adab dan semacamnya atau secara tegas “akhlaq yang terpuji” yang  terdapat hanya dalam istilah ta’dib. Dengan tidak dipakainya konsep ta’dib untuk menunjukkan kegiatan pendidikan, telah berakibat hilangnya adab sehingga melunturkan citra keadilan dan kesucian. Menurut Al Attas, keadaan semacam itu bisa membingungkan kaum muslimin,  sampai-sampai tak terasa pikiran dan cara hidup sekuler telah menggeser berbagai konsep Islam di berbagai segi kehidupan termasuk pendidikan.

  1. Menurut Soegarda Poerbakawatja dalam ensiklopedi pendidikan:

Pendidikan dalam arti yang luas meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya serta ketrampilannya (orang menamakan ini juga “mengalihkan” kebudayaan) kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah”.[3]

  1. Menurut Ahmad D. Marimba:

“Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”.[4] Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan adalah usaha secara sadar untuk mengarahkan dan membimbing anak dalam mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya baik jasmani maupun rohani sehingga mencapai kedewasaan yang akan menimbulkan perilaku utama dan kepribadian yang baik.

  1. Pengertian Akhlak

Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistik (kebahasaan), dan pendekatan terminologik (peristilahan). dari sudut kebahasaan, bahwa kata akhlak itu bentuk jamak dari kata “Al-khuluqu”, dan kata yang terakhir ini mengandung segi-segi yang sesuai dengan kata “al-khalqu” yang bermakna “kejadian”. Kedua kata tersebut berasal dari kata kerja “khalaqa” yang mempunyai arti “menjadikan”. Dari kata “khalaqa” inilah timbul bermacam-macam kata seperti: Al-khuluqu yang mempunyai makna “budi pekerti”. Al-khalqu mempunyai makna “kejadian”. Al-khaliq bermakna “Tuhan Pencipta Alam” Makhluq mempunyai arti “segala sesuatu yang diciptakan Tuhan”. Selanjutnya, Barmawie Umarie menguraikan pengertiannya sebagai berikut: Asal kata akhlaq adalah meervoud dari khilqun; yang mengandung segi-segi persesuaian dengan kata khaliq dan makhluq. Dari sinilah asal perumusan Ilmu Akhlaq yang merupakan koleksi ugeran yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara Makhluk dengan khaliq, serta antara makhluk dengan makhluk yang lain.[5] Adapun penjelasan secara terminologik, berikut beberapa pendapat dari pakar ilmu akhlaq, antara lain:

  1. Al-Qurtuby mengatakan :

مَا هُوَ يَأْخُذُ بِهِ الْإِنْسَانُ نَفْسُهُ مِنَ الْأَدَبِ يُسَمَّى خُلُقاً, لِأَنَّهُ يَصِيْرُ مِنَ الْخِلْقَةِ فِيْهِ Perbuatan yang bersumber dari diri manusia yang selalu dilakukan, maka itulah yang disebut akhlaq, karena perbuatan tersebut bersumber dari kejadiannya.[6]

  1. Muhammad bin ‘Ilan al-Sadiqi mengatakan :

اَلْخُلُقُ = مَلَكَةٌ بِالنَّفْسِ يَقْتَدِرُ بِهَا عَلَى صُدُوْرِ الْأَفْعَالِ الْجَمِيْلَةِ بِسُهُوْلَةٍ Akhlak adalah suatu pembawaan yang tertanam dalam diri, yang dapat mendorong (seseorang) berbuat baik dengan gampang.[7]

  1. Ibnu Maskawaih mengatakan :

اَلْخُلُقُ = حَالٌ لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَهَا إِلَى أَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَلَارَوِيَّةٍ Akhlaq adalah kondisi jiwa yang selalu mendorong (manusia) berbuat sesuatu, tanpa ia memikirkan (terlalu lama).[8]

  1. Abu Bakar Jabir al-Jaziri mengatakan :

اَلْخُلُقُ هَيْئَةٌ رَاسِخَةٌ فِى النَّفْسِ تَصْدُرُ عَنْهَا الْأَفْعَالُ الْإِرَادِيَّةُ الْإِخْتِيَارِيَّةُ مِنْ حَسَنَةٍ وَسَيِّئَةٍ وَجَمِيْلَةٍ وَقَبِيْحَةٍ Akhlaq adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela.[9]

  1. Imam al-Ghazali mengatakan :

فَالْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٌ عَنْهَا تَصْدُرُ الْأَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مٍنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ, فَإِنْ كَانَتِ الْهَيْئَةُ بِحَيْثُ تَصْدُرُ عَنْهَا الْأَفْعَالُ الْجَمِيْلَةُ الْمَحْمُوْدَةُ عَقْلاً وَشَرْعًا سُمِّيَتْ تِلْكَ الْهَيْئَةُ خُلُقًا حَسَنًا. وَإِنْ كَانَ الصَّادِرُ عَنْهَا الْأَفْعَالُ الْقَبِيْحَةُ سُمِّيَتْ تِلْكَ الْهَيْئَةُ الَّتِى هِيَ الْمَصَادِرُ خُلُقًا سَيِّئًا. Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia), yang dapat melahirkan  suatu perbuatan yang gampang dilakukan; tanpa melalui maksud untuk memikirkan (lebih lama). Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan terpuji menurut ketentuan rasio dan norma agama, dinamakan akhlaq baik. Tetapi manakala ia melahirkan tindakan buruk, maka dinamakan akhlaq buruk.[10] Sejalan dengan pendapat tersebut di atas, dalam Mu’jam al Wasith, Ibrahim Anis mengatakan bahwa akhlak adalah : حَالٌ للنَّفْسِ رَاسِخَةٌ تَصْدُرُ عَنْهَا الْأَعْمَالُ مِنْ خَيْرٍ اَوْ شَرٍّ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرُؤْيَةٍ Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.[11] Selanjutnya di dalam Kitab Dairatul Ma’arif, secara singkat akhlaq diartikan, هِيَ صِفَاتُ الْإِنْسَانِ الْاَدَبِيَّةِ Sifat-sifat manusia yang terdidik.[12] Keseluruhan definisi akhlak tersebut di atas tampak tidak ada yang bertentangan, melainkan memiliki kemiripan antara satu dan lainnya. Definisi-definisi akhlak tersebut secara subtansial tampak saling melengkapi. Abuddin Nata dalam bukunya Akhlak Tasawuf (1997) menyimpulkan lima ciri-ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu: Pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya. Jika kita mengatakan bahwa si A misalnya sebagai orang yang berakhlak dermawan, maka sikap dermawan tersebut telah mendarah daging, kapan dan dimanapun sikapnya itu dibawanya, sehingga menjadi identitas yang membedakan dirinya dengan orang lain. Jika si A tersebut kadang-kadang dermawan, dan kadang-kadang bakhil, maka si A tersebut belum dapat dikatakan sebagai seorang yang dermawan. Demikian juga jika kepada si B kita mengatakan bahwa ia termasuk orang yang taat beribadah, maka sikap taat beribadah tersebut telah dilakukannya di manapun ia berada. Kedua, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Ini tidak berarti bahwa pada saat melakukan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur atau gila. Pada saat yang bersangkutan melakukan suatu perbuatan ia tetap sehat akal pikirannya dan sadar. Oleh karena itu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam keadaan tidur, hilang ingatan, mabuk, atau perbuatan reflek seperti berkedip, tertawa dan sebagainya bukanlah perbuatan akhlak. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang sehat akal pikirannya. Namun karena perbuatan tersebut sudah mendarah daging, sebagaimana disebutkan pada sifat yang pertama, maka pada saat akan mengerjakannya sudah tidak lagi memerlukan pertimbangan atau pemikiran lagi. Hal yang demikian tak ubahnya dengan seseorang yang sudah mendarah daging menjalankan shalat lima waktu, maka pada saat datang panggilan shalat ia sudah tidak merasa berat lagi mengerjakannya, dan tanpa pikir-pikir lagi ia sudah dengan mudah dan ringan dapat mengerjakannya. Ketiga, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Oleh karena itu jika ada seseorang yang melakukan suatu perbuatan tetapi perbuatan tersebut dilakukan karena paksaan, tekanan atau ancaman dari luar, maka perbuatan tersebut tidak termasuk ke dalam akhlak dari orang yang melakukannya.[13] Keempat, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan sesungguhnya bukan main-main atau karena bersandiwara. Jika kita menyaksikan orang berbuat kejam, sadis, jahat dan seterusnya, tapi perbuatan tersebut kita lihat dalam pertunjukan film, maka perbuatan tersebut tidak dapat disebut perbuatan akhlak, karena perbuatan tersebut bukan perbuatan yang sebenarnya. Berkenaan dengan ini, maka sebaiknya seseorang tidak cepat-cepat menilai orang lain sebagai berakhlak baik atau berakhlak buruk, sebelum diketahui dengan sesungguhnya bahwa perbuatan tersebut memang dilakukan hai ini perlu dicatat, karena manusia termasuk makhluk yang pandai bersandiwara, atau berpura-pura. Untuk mengetahui perbuatan yang sesungguhnya dapat dilakukan melalui cara yang kontinyu dan terus-menerus. Kelima, sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan sesuatu pujian. Seseorang yang melakukan perbuatan bukan atas dasar karena Allah tidak dapat dikatakan perbuatan akhlak.[14] Konsep manusia yang ideal dalam Islam, adalah manusia yang kuat imannya dan kuat taqwanya. Ketika manusia memiliki kekuatan taqwa, ia pun dapat memiliki kekuatan ibadah dan kekuatan akhlaq. Orang yang memiliki kekuatan iman, disebut Mu’min. orang yang memiliki kekuatan ibadah disebut Muslim, dan orang yang memiliki kekuatan akhlaq disebut Muhsin. Bila ketiga macam sifat ini menjadi kekuatan dalam diri setiap manusia, maka ia akan selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat.[15] Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah tingkah laku atau tabiat seseorang, yakni keadaan jiwa yang telah terlatih sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar  telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa ada pertimbangan lagi. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan, pendidikan akhlak adalah usaha sadar yang dilaksanakan manusia dalam rangka mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya baik jasmani maupun rohani dengan membiasakan diri berperilaku baik dan meninggalkan perilaku buruk dengan berpedoman pada Al-Qur’an sehingga mencapai kedewasaan yang akan menimbulkan perilaku utama dan kepribadian yang baik.

Referensi:

[1] Hasan Hafidz, Dasar-dasar Pendidikan dan Ilmu Jiwa, (Solo: Ramadhani, 1989), h.12 [2] Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, terj Drs. Hery Noor Ali, (Bandung: CV, Diponegoro, 1992), h.32 [3] Soegarda Poerbakawatja dan H.A.H Harahap, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), h.257 [4] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al Ma’arif, 1989), h.19 [5] Barmawie Umarie, Materia Akhlaq, Ramadhani, (Solo: ttp,1978), h.1 [6] Al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, Juz VIII, (Qairo, Dar al-Sya’bi, 1913 M), h.6706 [7] Muhammad bin ‘Ilan al-Sadiqi, Dalil al-Falihin, Juz III, (Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1391 H//1971), h.76 [8] Muhammad Yusuf  Musa, Falsafah al-Akhlaq Fi-al-Islam Wa-Silatuha Bi-al-Falsafah al-Igririyyah, Qairo, Muassasah al-Khanji, 1963 M), h.81 [9] Abu Bakar Jabir al-Jaziri, Minhaj al-Muslim, (Madinah, Dar ‘Umar bin Khattab, 1396 H/ 1976 M), h.154 [10] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumi al-Din, Juz III, (Bayrut, Dar al-Fikr, tt), h.52 [11] Ibrahim Anis, Al-Mu’jam al-Wasith, (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1972), h.202 [12] Abd al-Hamid, Dairah al-Ma’arif, II (Kairo: Asy-Sya’b, t.t), h.436 [13] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafino Persada, 1997) h.5-6 [14] Ibid., h.7 [15] Mahjuddin, Akhlak Tasawuf II: Pencarian Ma’rifah Bagi Sufi Klasik Dan Penemuan Kebahagiaan Batin Bagi Sufi Kontemporer, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), h.2-3