Resume Buku “SEPIA” ((Spiritual, Emosional, Power, Intellectual, Aspirasi))

Standar
  • Judul Buku           : SEPIA (Spiritual, Emosional, Power, Intellectual, Aspirasi)

5 Kecerdasan Utama Meraih Bahagia dan Sukses

  • Pengarang           : Khairul Ummah, Dimitri Mahayana, Agus Nggermanto
  • Pengantar           : Jalaluddin Rakhmat
  • Jumlah Halaman : 212
  • Penerbit              : Ahaa Pustaka

RESUME PROLOG BUKU

Pandangan terhadap manusia kembali seimbang di akhir abad-20 dengan banyaknya temuan penelitian tentang peran karakter bagi sukses seseorang. Di akhir abad-20 kembali ramai wacana EQ (Emotional Quotiient), AQ (Adversity Quotient), SQ (Spiritual Quotient). Yang belum banyak dibahas adalah adanya kecerdasan pengelolaan kekuatan (Power Intelligence) dan Kecerdasan aspirasi (Aspiration Intelligence) yang bersama dengan model SEPIA merupakan kontribusi inti dari buku ini.[1]

umumnya sebagian dari kita jika sedang mendengar atau membaca suatu tulisan tentang kecerdasan, maka biasanya secara langsung hal yang kita fikir adalah tentang EQ, IQ, dan SQ yang sudah tidak asing ditelinga kita. Dalam buku yang saya resume ini tidak hanya membahas ketiga konsep kecerdasan tersebut saja, namun disini 5 Konsep kecerdasan yang terkumpul dalam SEPIA akan memberikan paradigma (cara pandang) baru dalam pengembangan karakter dan kompetensi.

Disini, kecerdasan Aspirasi (Aspiration), kecerdasan Spiritual (Spiritual), dan kecerdasan emosional (Emotional) terlingkup dalam pengembangan karakter (Character). Sedangkan, kecerdasan intelektual (Intelectual) dan pengelolaan kekuatan (Power) terlingkup dalam pengembangan kemampuan atau kompetensi (Competence).

Untuk meraih bahagia dan sukses maka butuh pengelolaan kelima kecerdasan tersebut secara seimbang. Keseluruhan kecerdasan SEPIA perlu di kelola, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara selaras dan seimbang. Hal-hal tersebut adalah kunci menuju bahagia dan sukses.

RESUME ISI BUKU

BAB 1. Spiritual Intelligence

Kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia untuk memberi makna atas apa yang ia alami dan jalani. Kecerdasan spiritual bukanlah sekedar agama (religi). Terlepas dari agama, manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan.[2]

Maksud dari pernyataan tersebut, arti dimana manusia memiliki kecerdasan spiritual tidak hanya dalam lingkup agama atau ibadah, hubungan kepadaNya, Namun memberi artian juga dalam bersosialisasi dengan sesama, alam atau lingkungan sekitar dan memberikan makna dalam hidupnya, yaitu apa yang ia alami dan ia jalani.

Dicontohkan, ada yang merasa bermakna dengan membuat lukisan indah, mampu menempuh bahaya besar yang menimpanya, bahkan ada yang merasa bermakna di hadapan Tuhan seperti dengan kesabarannya, ketawakkalan yang ia jalani selaras dengan rasa bahagia tanpa ada paras kesedihan dalam wajahnya. Ia hanya kenal rasa bahagia atas segala karuniaNya tanpa harus mengeluh. nah, Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama. Karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.

Bicara masalah bahagia, dalam buku ini mengungkapkan bahwa bahagia adalah sebuah perasaan subyektif yang lebih banyak ditentukan dengan rasa bermakna. Manusia mencoba mencari makna, inilah penjelasan mengapa dalam ke adaan pedih dan sengsara sebagian manusia masih tetap dapat tersenyum. Karena bahagia tercipta dari rasa bermakna.

Penyebab rasa bahagia inilah yang menggerakkan karunia kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence). Ini adalah kecerdasan manusia dalam memberi makna. Seorang manusia yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi mampu menjadi lebih bahagia dalam menjalani hidup dibandingkan mereka yang taraf kecerdasan spiritualnya lebih rendah. Kecerdasan spiritual inilah yang menuntun kita untuk menemukan makna.

Maka bisa dikatakan bahwa Kunci Kebahagiaan  adalah terletak pada Kecerdasan Spiritual.

BAB 2. Emotional Intelligence

Kecerdasan Emosi adalah kemampuan untuk mendeteksi dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain.[3]

Yang saya pahami dalam konsep ini, kecerdasan emosi bertindak untuk mengenali emosi baik pada diri sendiri maupun pada diri orang lain agar mampu menyesuaikan dan berinteraksi dengan baik lalu mengendalikannya, mengelolanya dengan sebaik mungkin.

Mengelola emosi pribadi, sebagai tindak lanjut menyadari, merupakan langkah yang sangat penting. Misalnya, setelah seseorang menyadari bahwa dirinya sedang frustasi,lalu ia diganggu temannya. Maka dia memilih respon untuk menjadikan frustasi tersebut sebagai kekuatan dan sebagai respon ia tidak menunjukkan rasa marah namun bisa jadi merasa bahagia dan tersenyum pada temannya. Karena memiki kecerdasan emosi inilah manusia mampu memilih respon.

Bisa dikatakan semakin cerdas emosi, semakin baik dan pintar dalam memilih respon atas rangsang (stimulus) yang datang dari luar.

Selanjutnya juga disebutkan, Kunci sukses yang sebenarnya tidak lain adalah kemampuan untuk mampu memahami emosi diri dan emosi orang lain yang ada di sekitar kita, dan memanfaatkan interaksi emosi ini semaksimum mungkin untuk tujuan-tujuan positif yang hendak dicapai bersama.[4]

Secara sosialis, seseorang juga butuh akan kepekaan terhadap emosi orang lain (sikap empati), tidak hanya pada dirinya sendiri. kenapa dikatakan seperti itu? Karena dengan begitu manusia mampu mendeteksi lalu merespon, mengelola emosi orang lain tersebut dengan baik. hal itu sangat berpengaruh dan memberi peran dalam keberhasilan seseorang juga dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang akan dicapai bersama.

Maka bisa dikatakan bahwa Kunci Kesuksesan adalah terletak pada Kecerdasan Emosional.

BAB 3. Power Intelligence

Kecerdasan kekuatan (Power intelligence). Kecerdasan ini berkaitan erat dengan kemampuan mengelola semua potensi kekuatan baik dari dalam diri maupun dari lingkungan.[5]

Menurut saya, Kecerdasan kekuatan ini menjadi penentu seberapa efektif dan efisien seseorang dalam usaha mencapai tujuannya. Dimana seseorang akan bergerak, bertindak untuk mengelola semua potensi kekuatan yang ada pada dirinya maupun dari lingkungannya.

Dicontohkan, secara refleks, manusia tahu bahwa dengan menggunakan alat bantu ia dapat bekerja lebih efisien. Manusia memanfaatkan pecahan batu untuk dijadikan pisau. Lalu dengan alat itu manusia bisa berburu lebih efisien dan efektif. Manusia juga tahu bahwa bekerja sama dengan manusia lain dapat membuat pekerjaan lebih mudah. Akhirnya manusia menggabungkan bakat, menyusun strategi, bekerjasama, membuat alat, dan membuat tujuan bersama. Semua ini adalah tanda bahwa manusia dikaruniai kecerdasan dalam mengelola berbagai kegiatan.

BAB 4. Intellectual Intelligence

Kecerdasan Intelektual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan belajar dan penciptaan.[6]

Kecerdasan yang dibahas disini berbicara masalah intelektual yang mana kini telah diakui ada banyak kecerdasan intelektual yaitu ada kecerdasan linguistik verbal (kemampuan berbahasa), ada juga kecerdasan matematik, masih ada pula kecerdasan kinestetik yang dimiliki olahragawan, ada juga kecerdasan musik dan lain sebagainya. Semua itu adalah bentuk penciptaan pada diri manusia.

Kecerdasan dalam konsep ini sangat berhubungan dengan kemampuan belajar. Seseorang yang cerdas matematik akan sangat mudah belajar matematika, namun belum tentu ia mudah memainkan bahasa dan olahraga (linguistik dan kinestetiknya).jadi bisa difahami bahwa kecerdasan orang itu berbeda-beda.

Kecerdasan intelektual ini sangat penting dalam meraih suatu kesuksesan. Untuk pengembangan kecerdasan intelektual, masyarakat umum mengenalnya sebagai IQ (Intelligence Quotient), maka kita perlu mengaktifkan otak kiri dan kanan secara optimal.

Namun disayangkan dalam sehari-hari orang sering hanya menggunakan setengah kemampuannya saja yaitu otak kiri. Dalam otak kita otak kanan sangat membantu kita dalam proses menghafal cepat, membaca cepat, dan berfikir kreatif. Maka dari itu perlu kita asah otak kanan kita, bukan hanya otak kiri saja yang kita pergunakan. Dengan begitu optimalisasi otak akan sangat efektif untuk mengembangkan kecerdasan intelektual kita.

Disini kita semakin sadar bahwa potensi otak sangatlah luar biasa. Dan intellectual intelligence adalah elemen yang sangat penting dari kompetensi manusia. Dengan pengelolaan yang baik atas karunia-karunia Tuhan tersebut, maka manusia dapat meraih apa yang ia hendak capai.

BAB 5. Aspiration Intelligence

Kecerdasan Aspirasi adalah kecerdasan manusia dalam mengenali dan mengelola keinginannya.[7]

Dalam artian yang saya tangkap, keinginan-keinginan yang timbul dalam diri seseorang ini dikelola menjadi tujuan yang menumbuhkan ambisi atau hasrat untuk mencapainya. Karena secara alami kecerdasan aspirasi ini menjadi penggerak utama manusia untuk maju.

Kecerdasan aspirasi ini timbul pada diri seseorang berawal dari kesadaran diri. Manusia mampu menyadari keberadaan dirinya didunia ini. Dengan kesadaran diri inilah manusia dapat mendeteksi keinginan dan kebutuhannya. Manusia ingin hidup enak, butuh makan, ingin mencipta, ingin meraih sesuatu, ingin memiliki makna hidup. Kesadaran diri ini akhirnya menggerakkan kecerdasan aspirasi, untuk bermimpi, membuat tujuan, dan cita-cita. Nah inilah kecerdasan aspirasi yaitu kecerdasan membuat cita-cita.

Kebanyakan orang tidak berani berpikir dan bermimpi besar. Itulah mengapa kebanyakan orang tidak mencapai prestasi yang besar? karena memang tidak pernah memimpikan prestasi yang besar. Disinilah kecerdasan aspirasi menjadi salah satu perbedaan yang sangat menonjol pada orang sukses dan orang yang biasa-biasa saja.

Maka bisa diambil kesimpulan, semakin tinggi kecerdasan aspirasi seseorang, maka semakin besar peluang akan terwujudnya suatu keinginan atau impian.

RESUME EPILOG BUKU

Tulisan ini memberikan kontribusi utama pada Power Intelligence dan Aspiration Intelligence sebagai kecerdasan yang selama ini terabaikan dalam literatur pendidikan.[8]

Memang pada realitas saat ini, yang kita kenal dalam konsep-konsep kecerdasan hanyalah 3 konsep utama. Namun dengan diterbitkannya buku SEPIA ini memberikan paradigma (cara pandang) baru dalam kecerdasan yang ada pada diri manusia dengan di kenalkannya 2 konsep tersebut.

Saya setuju dengan kontribusi baru ini, dimana manusia akan menemukan banyak kecerdasan pada dirinya yang dapat untuk dikembangkan, dikelola lebih efektif dan efisien dalam meraih sukses dan bahagia yang diimpikan setiap orang.

Dalam buku ini, para penulis tidak memenangkan satu konsep terhadap yang lain, namun memberi arti keharmonisan unsur S, E, P, I, dan A lah yang akan menyebabkan kebahagiaan hidup seseorang karena memiliki spiritualitas dan makna (S), memiliki emosi yang sehat (E), mampu mengelola kekuatan (P), memiliki kecerdasan yang cukup untuk memahami berbagai fenomena dan perkembangan ilmu pengetahuan, sastra dan lain-lain (I), serta memiliki tujuan atau cita-cita dengan ambisi yang baik untuk mencapainya(A).

Dan Keseimbangan pengelolaannya menjadi penentu Ketercapaian tujuannya.


[1] Halaman 14

[2] Halaman 20

[3] Halaman 50

[4] Halaman 52

[5] Halaman 112

[6]Halaman 148

[7] Halaman 180

[8] Halaman 209

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s