PSIKOLOGI BELAJAR “Resume tentang Pengamatan, Tanggapan dan Fantasi”

Standar

BAB I. PENDAHULUAN

 

1.      Latar Belakang

Alqur’an surat Al-‘Alaq 1-5 yang artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Dalam ayat tersebut tercakup sekaligus dua konsep yaitu “belajar” (aktivitas manusia yakni Muhammad) dan “mengajar” (aktivitas Allah SWT melalui wasilah Malaikat). Keduanya merupakan muatan psikologi. “Membaca” yang tersebut juga didalamnya, merupakan salah satu aktivitas dan cara belajar. Disini membaca tidak hanya terbatas pada aspek-aspek yang nampak secara lahiriah, memahami perasaan dan emosi seseorang juga termasuk membaca.

Dalam proses pembelajaran pendidikan agama islam, banyak sekali perilaku-perilaku psikologis yang harus dipahami oleh guru. Salah satunya yakni mengenai aktivitas-aktivitas kejiwaan siswa. Oleh karenanya disini penulis akan menyajikan bahasan tentang pengamatan, tanggapan dan fantasi sebagai aktivitas awal dan dasar dari seorang siswa dalam belajar.

2.      Rumusan Masalah

        1)      Apakah yang dimaksud Pengamatan, Tanggapan, dan Fantasi?

        2)      Bagaimana proses terjadinya Pengamatan, Tanggapan, dan Fantasi?

        3)      Bagaimana jenis dan fungsi dari Pengamatan, Tanggapan, dan Fantasi?

3.      Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ini adalah agar mengerti apa definisi dari Pengamatan, Tanggapan, dan Fantasi berikut proses terjadinya, jenis serta fungsinya dan kedepannya mampu menyikapi aktivitas-aktivitas manusia tersebut dalam proses belajar-mengajar.

 

BAB II. PEMBAHASAN ISI

 

1.      AKTIVITAS-AKTIVITAS KEJIWAAN MANUSIA

PENGAMATAN

               Pengamatan merupakan proses belajar mengenal segala sesuatu yang ada di sekitar kita dengan menggunakan alat indera kita. Dengan kehendak-Nya, Allah membekali manusia dan hewan dengan segala keperluan dan fungsi yang mereka perlukan untuk tetap bisa melestarikan hidupnya.[1] Sebagaimana firman Allah:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

Artinya: “Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan gajah?”(QS. Al-Fiil:1)

               Secara tidak langsung ayat tersebut memerintahkan agar kita melakukan suatu pengamatan terhadap sesuatu agar kita mengetahui apa yang dikandungnya.

               Pengamatan itu sendiri dalam pengertian sempit merupakan proses menginterpretasikan sesuatu, dengan jalan: mengenali “tanda-tanda” sebagai alatnya, dan pengertian-pengertian tertentu sebagai tujuan pengamatan.[2]

               Syah (1996: 118) menyatakan bahwa pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indra-indra seperti mata dan telinga. Berkat pengalaman belajar, seorang siswa akan mampu mencapai pengamatan yang benar objektif sebelum memperoleh pengertian. Pengamatan yang salah akan mengakibatkan timbulnya pengertian yang salah pula.[3]

Manusia memiliki indra untuk mengamati segala sesuatu yang ada dalam lingkungannya. Dari hasil pengamatan itu tinggallah kesan atau tanggapan. Makin baik daya reaksi terhadap lingkungan manusia akan makin banyak memiliki kesan (tanggapan).[4]

TANGGAPAN

               Tanggapan sebagai salah satu fungsi jiwa yang pokok, dapat diartikan sebagai gambaran ingatan dari pengamatan, ketika objek yang diamati tidak lagi berada dalam ruang dam waktu pengamatan. Jadi, jika proses pengamatan sudah berhenti, dan hanya tinggal kesan-kesannya saja, peristiwa demikian ini disebut tanggapan.

               Tanggapan disebut “laten” (tersembunyi, belum terungkap), apabila tanggapan tersebut ada di bawah sadar, atau tidak kita sadari, dan suatu saat bisa disadarkan kembali. Sedang tanggapan disebut “aktual”, apabila tanggapan tersbut kita sadari.[5]

               Menurut teori tanggapan, belajar adalah memasukkan tanggapan sebanyak-banyaknya, berulang-ulang, dan sejelas-jelasnya. Banyak tanggapan berarti dikatakan pandai. Sedikit tanggapan berarti dikatakan kurang pandai. Maka orang pandai berarti orang yang banyak mempunyai tanggapan yang tersimpan dalam otaknya.[6]

Perbedaan antara tanggapan dan pengamatan:

  1. Pengamatan terikat pada tempat dan waktu, sedang pada tanggapan tidak terikat waktu dan tempat.
  2. Objek pengamatan sempurna dan mendetail, sedangkan objek tanggapan tidak mendetail dan kabur.
  3. Pengamatan memerlukan perangsang, sedang pada tanggapan tidak perlu ada rangsangan.
  4. Pengamatan bersifat sensoris, sedang pada tanggapan bersifat imaginer.[7]

FANTASI

  1. Definisi Fantasi

Fantasi adalah daya jiwa untuk membentuk atau mencipta tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang sudah ada.[8]

Ilmu jiwa modern memberi batasan bahwa fantasi ialah suatu daya jiwa untuk untuk menciptakan sesuatu yang baru.[9] Tergambar dalam firman Allah:

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

Artinya : “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” (QS. Ar-Ra’d: 2)[10]

               Ayat tersebut telah menggambarkan tentang Isyarat adanya Gravitasi Bumi dengan berfantasi dari tanda-tanda yang telah ditampakkan dan dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an.

Fantasi sebagai kemampuan jiwa manusia menurut Terjadinya:

(1)   Secara disadari, yaitu apabila individu betul-betul menyadari akan menyadarinya akan menyadarinya. Hal ini banyak ditemukan pada seorang pelukis, pemahat atau

(2)    Secara tidak disadari, yaitu bila individu tidak secara sadar telah dituntut oleh fantasinya. Keadaan semacam ini banyak dijumpai pada anak-anak.[11]

  1. Jenis Fantasi:

a)      Fantasi Mencipta

Fantasi yang terjadi atas inisiatif atau kehendak sendiri, tanpa bantuan orang lain atau jenis fantasi yang mampu menciptakan hal-hal baru. Fantasi macam ini biasanya lebih banyak dimilki oleh para seniman, anak-anak, dan para ilmuwan.

b)      Fantasi Tuntunan atau Terpimpin

Fantasi yang terjadi dengan bantuan pimpinan atau tuntunan orang lain. Dalam hal ini misalnya kalau kita sedang membaca buku, kita mengikuti pengarang buku itu dalam ceritanya.[12]

  1. Fungsi Pokok Fantasi

(1)   Fantasi mengh-abstrahir (mengabstraksi)

            Fantasi dengan menyaring atau memisahkan sifat-sifat tertentu dari tanggapan yang sudah ada. Misalnya anak yang belum pernah melihat gurun pasir, maka dalam berfantasi, dibayangkan dengan seperti lapangan tanpa pohon-pohon disekitarnya dan tanahnya malulu pasir semua bukan rumput.

(2)   Fantasi Mengkombinir

            Fantasi dengan mengabungkan dua atau lebih tanggapan-tanggapan yang sudah ada, disusun menjadi satu tanggapan baru. Misalnya: Tanggapan badan singa + kepala manusia =Spinx di kota Mesir

(3)  Fantasi Mendeterninir

            Fantasi dimana tanggapan lama dilengkapi, disempurnakan dan mendapatkan ketentuan yang lebih jelas dan terbatas sehingga tercipta tanggapan baru. Misalnya gambaran telaga tapi diperbesar maka terciptalah gambaran angan-angan lautan.[13]

 

 

BAB III. PENUTUP

1.      Kesimpulan

Hasil yang dapat diambil menurut penulis yakni:

  • Pengamatan adalah proses mengenali sesuatu melalui tanda-tandanya untuk menghasilkan suatu pengertian.
  • Pengamatan merupakan gerbang awal untuk mengenal dunia, oleh karenanya Allah menganugerahkan kita berupa panca indra agar mampu mengamati dan mengenal alam sekitar maupun diri sendiri dengan melihat, mendengar, meraba, membau dan mencecapnya.
  • Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para guru perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Dan selanjutnya guru dapat mempertimbangkan penampilan media di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran para siswa.
  • Proses pengamatan akan menghasilkan kesan (tanggapan) dan semakin baik suatu pengamatan, maka semakin baik pula kesan yang didapat.
  • Tanggapan adalah gambaran ingatan dari pengamatan. Misalanya berupa kesan pemandangan alam yang baru kita lihat dll.
  • Tanggapan tidak terikat waktu dan tempat, tanpa adanya rangsangan, tidak mendetail dan bersifat imaginer.
  • Tanggapan memainkan peran penting dalam belajarnya atau berkembangnya anak didik. Karena itu sudah seharusnya tanggapan tersebut diperkembangkan dan dikontrol sebaik-baiknya oleh para pengajar.
  • Fantasi adalah daya untuk menciptakan suatu hal baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan yang sudah ada.
  • Fantasi bersifat imaginer, memungkinkan orang menciptakan sesuatu dan merealisasikannya dalam kehidupan riil.
  • Mengingat besarnya faedah fantasi itu bagi kehidupan manusia sehari-hari, maka harfuslah fantasi itu dikembangkan terutama dalam proses pembelajaran.dengan demikian siswa dapat menumbuh-kembangkan apa yang ditangkapnya.

 

Daftar Pustaka 

Ahmadi, Abu, Psikologi Belajar. (Jakarta: Rineka Cipta, 1991)

Ahmadi, Abu, Psikologi Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009)

Ahmadi,Abu, Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), Cet-2,

Ahmadi, M.Ishom, “Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah”. (Yogyakarta: SJ Press, 2009) 

Bahri Djamarah, Syaiful, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011)

Hatta, Ahmad, Tafsir Qur’an Per Kata, (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2009) Cet ke-3.

Kartono, Kartini, Psikologi Umum, (Bandung: Mandar Maju, 1996)

Suyanto, Agus, Psikologi Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993) Cet ke-9.

Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1998)

Thohirin, Psikologi Pembelajaran Pendididkan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006)


[1]  M.Ishom Ahmadi, “Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah”. (Yogyakarta: SJ Press, 2009)  Hlm. 26-27

[2]  Kartini Kartono, Psikologi Umum, (Bandung: Mandar Maju, 1996), Hlm. 49

[3]  Thohirin, Psikologi Pembelajaran Pendididkan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006) Hlm. 96.

[4]  Abu Ahmadi, Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), Cet-2, Hlm. 22.

[5]  Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009) Hlm. 68

[6]  Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011)Hlm. 18

[7]  Abu Ahmadi, Psikologi Belajar. (Jakarta: Rineka Cipta, 1991) Hlm. 69

[8]  M.Ishom Ahmadi, Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah, (Yogyakarta: SJ Press, 2009) Hlm. 70

[9]  Agus Suyanto, Psikologi Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993) Cet ke-9, Hlm. 50

[10] Ahmad Hatta, Tafsir Qur’an Per Kata, (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2009) Cet ke-3, Hlm. 249

[11] Abu Ahmadi, Op-Cit,. Hlm. 81

[12] M.Ishom Ahmadi, Op-Cit., Hlm. 70

[13] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1998) Hlm. 40

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s