DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN AKHLAK

Standar

A. DASAR PENDIDIKAN AKHLAK

Islam merupakan agama yang sempurna, sehingga setiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki dasar pemikiran, begitu pula dengan pendidikan akhlak. Tidak diragukan lagi bahwa pendidikan akhlak dalam agama Islam bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an sendiri sebagai dasar utama dalam Agama Islam telah memberikan petunjuk pada jalan kebenaran, mengarahkan kepada pencapaian kebahagiaan di dunia dan akhirat.[1] Di antara ayat yang menyebutkan pentingnya akhlak adalah dalam surat Ali Imran ayat 104:

Dalam ayat tersebut Allah SWT menganjurkan hamba-Nya untuk dapat menasehati, mengajar, membimbing dan mendidik sesamanya dalam hal melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan. Dengan demikian Allah telah memberikan dasar yang jelas mengenai pendidikan akhlak yang mana merupakan suatu usaha untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar berbudi pekerti luhur dan berakhlaqul karimah.

Selain menyebutkan pentingnya pendidikan akhlak, Al-Qur’an pun menunjukkan siapa figur yang harus dicontoh dan dijadikan sebagai uswatun hasanah. Sebagaimana firman-Nya dalam QS.Al-Ahzab: 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً -٢١-

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah merupakan figur utama sebagai manusia dan utusan Allah yang patut dijadikan panutan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Allah pun dalam ayat lain memuji kepribadian Rasulullah SAW sebagaimana firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ -٤-

Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)

Dasar pentingnya akhlak dalam As-Sunnah dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

Dari Abu Hurairah r.a berkata: Bahwasanya Raasulullah SAW bersabda:

” إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق ”

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. (HR. Ahmad dan Baihaqi)[2]

Dari ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah Saw. di atas menunjukkan bahwa dasar dan pijakan pendidikan akhlak adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dari dasar dan pedoman itulah dapat diketahui kriteria suatu perbuatan itu baik ataupun buruk.

B. TUJUAN PENDIDIKAN AKHLAK

  1. Tujuan Akhlak

Tujuan akhlak ialah hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna, dan membedakannya dari makhluk-makhluk lainnya. Akhlak hendak menjadikan orang berakhlak baik, bertindak baik terhadap manusia, sesama makhluk dan tuhan. Pelajaran akhlak atau ilmu akhlak bertujuan mengetahui perbedaan-perbedaan perangai manusia yang baik maupun yang jahat, agar manusia dapat memegang teguh perangai-perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai yang jahat, sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat, tidak saling membenci, curiga mencurigai antara satu sama lain, tidak ada perkelahian dan peperangan atau bunuh-bunuhan sesama hamba Allah.

Yang hendak dikendalikan oleh akhlak ialah tindakan lahir. Akan tetapi oleh karena tindakan lahir itu tidak dapat terjadi bila tidak didahului oleh gerak batin atau tindakan hati, maka tindakan batin dan gerak-gerik hati termasuk lapangan yang diatur oleh akhlak. Tidak akan terjadi perkelahian kalau tidak didahului oleh tindakan batin atau garak-garik hati, yakni benci-mambenci (hasad). Oleh karena itu maka setiap insan diwajibkan dapat menguasai batinnya atau mengendalikan hawa nafsunya karena ialah yang merupakan motor dari segala tindakan lahir.

Aristoteles berkata, “Mengenai sesuatu yang berhubungan dengan keutamaan orang tidak hanya mengetahui, tetapi mesti ditambah dengan latihan untuk memiliki dan mempergunakannya atau menciptakan cara lain yang dapat menjadikan kita orang-orang yang utama. Kalau khotbah-khotbah dan kitab-kitab itu sanggup dengan sendirinya membuat kita menjadi orang baik-baik, maka pasti sebagaimana kata teognis setiap orang mau membelinya, walaupun dengan harga yang semahal-mahalnya. Tapi sayang seluruh kesanggupan dari dasar-dasar ilmu akhlak ini hanyalah memperkuat kemauan untuk tetap dalam kebaikan dan membuat hati mulia dengan fitrahnya utama”.

  1. Tujuan Pendidikan Akhlak

Tujuan utama dari pendidikan Islam ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral bukan hanya sekedar memenuhi otak murid-murid dengan ilmu pengetahuan tetapi tujuannya ialah mendidik akhlak dengan memperhatikan segi-segi kesehatan, pendidikan fisik dan mental, perasaan dan praktek serta mempersiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat.[3]

Adapun tujuan pendidikan akhlak secara umum yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

  1. Tujuan pendidikan akhlak menurut Omar Muhammad Al Thoumy Al- Syaibani “Tujuan tertinggi agama dan akhlak ialah menciptakan kebahagiaan dua kampung (dunia dan akherat), kesempurnaan jiwa bagi individu, dan menciptakan kebahagiaan, kemajuan, kekuatan dan keteguhan bagi masyarakat”.[4] Pada dasarnya apa yang akan dicapai dalam pendidikan akhlak tidak berbeda dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri.
  2. Tujuan pendidikan akhlak menurut M. Athiyah al Abrasyi “Tujuan pendidikan budi pekerti adalah membentuk manusia yang berakhlak (baik laki-laki maupun wanita) agar mempunyai kehendak yang kuat, perbuatan-perbuatan yang baik, meresapkan fadhilah (kedalam jiwanya) dengan meresapkan cinta kepada fadhilah (kedalam jiwanya) dengan perasaan cinta kepada fadhilah dan menjauhi kekejian (dengan keyakinan bahwa perbuatan itu benar-benar keji).[5]
  3. Tujuan pendidikan akhlak menurut Mahmud Yunus “Tujuan pendidikan akhlak adalah membentuk putra-putri yang berakhlak mulia, berbudi luhur, bercita-cita tinggi, berkemauan keras, beradab, sopan santun, baik tingkah lakunya, manis tutur bahasanya, jujur dalam segala perbuatannya, suci murni hatinya”.[6]

Tujuan di atas selaras dengan tujuan pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20/Th. 2003, bab II, Pasal 3 dinyatakan bahwa: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.[7]

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tersebut mengisyaratkan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan adalah sebagai usaha mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu pendidikan dan martabat manusia baik secara jasmaniah maupun rohaniah.

[1] Oemar al-Taomy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam (terj) Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h.346

[2] Imam Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Imam Ahmad, Juz II, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, t.t), h.504

[3] M. Athiyah al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, h.109

[4] Omar Muhammad al-Toumy Al-Syaibany, Falsafat Pendidikan Islam, h.346

[5] M. Athiyah Al Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, h.108

[6] Mahmud Yunus, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: Hida Karya Agung, 1978), Cet. II, h.22

[7] Undang-undang RI, Sistem Pendidikan Nasional, (Semarang: Aneka Ilmu, 2003), Cet. VII, h.7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s