FAKTOR PEMBENTUK AKHLAK

Standar

 

Berbicara masalah pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah bentukan akhlak. Muhammad Athiyah Al-Abrasyi misalnya mengatakn bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan islam.[1] Demikian pula Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap muslim yaitu untuk menjadi hamba Allah, yaitu hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepadanya dengan memeluk agama islam.[2] Berikut ini faktor-faktor pembentuk akhlak menurut Mahjuddin:

  1. Faktor Pembawaan Naluriyah (Gharizah atau Instink).

Sebagai makhluk biologis, ada faktor bawaan sejak lahir yang menjadi pendorong perbuatan setiap manusia. Faktor itu disebut dengan naluri atau tabiat menurut J.J. Rousseau. Lalu Mansur Ali Rajab menamakannya dengan tabiat kemanusiaan (al tabi’ah al-insaniyyah). Ia menyetir pendapat Plato yang menyatakan; bahwa tabiat (bawaan) baik dengan bawaan buruk dalam diri manusia sangat berdekatan, karena itu sering muncul perbuatan baiknya dan perbuatan buruknya. Lalu menyetir lagi pendapat J.J. Rousseau (1712-1778) dari Perancis dengan mengatakan: Sesungguhnya anak yang baru lahir memiliki pembawaan baik, lalu sifat buruknya muncul karena pengaruh dari lingkungannya (pergaulannya).[3]

Dengan pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa kecenderungan naluriyah dapat dikendalikan oleh akhlaq atau tuntunan agama, sehingga manusia dapat mempertimbangkan kecenderungannya; apakah itu baik atau buruk. Gharizah atau naluri tidak pernah berubah sejak manusia itu lahir, tetapi pengaruh negatifnya yang bisa dikendalikan oleh faktor pendidikan atau latihan. Karena faktor naluri ini sangat terkait dengan nafsu (ammarah dan muthmainnah), maka sering ia dapat membawa manusia kepada kehancuran moral, dan sering pula menyebabkan manusia mencapai tingkat yang lebih tinggi, dengan kemampuan nalurinya. Tatkala naluri cenderung kepada perbuatan baik, maka akal dan tuntunan agama yang memberikan jalan seluas-luasnya, untuk lebih meningkatkan intensitas perbuatan itu. Maka disinilah perlunya manusia memiliki agama, sebagai pengendali dan penuntun dalam hidupnya.[4]

  1. Faktor sifat-sifat keturunan (al-Warithah)

Mansur Ali Rajab mengatakan, bahwa sifat-sifat keturunan adalah sifat-sifat (bawaan) yang diwariskan oleh orang tua kepada keturunannya (anak dan cucunya).[5]

Warisan sifat-sifat orang tua kepada keturunannya ada yang sifatnya langsung (mubasharah) dan ada juga yang tidak langsung (gairu mubasharah), misalnya sifat-sifat itu tidak langsung turun kepada anaknya, tetapi bisa turun kepada cucunya. Sifat-sifat ini juga kadang dari ayah atau ibu, dan kadang anak atau cucu mewarisi kecerdasan (sifah al-‘aqliyah) dari ayahnya atau kakeknya, lalu mewarisi sifat baik (sifah al-khuluqiyaah) dari ibunya atau neneknya, atau dengan sebaliknya.

Di samping adanya sifat bawaan anak sejak lahir (naluri dan sifat keturunan), sebagai potensi dasar potensi dasar untuk mempengaruhi perbuatan setiap manusia, dan juga faktor lingkungan yang mempengaruhinya; misalnya pendidikan dan tuntunan agama. Faktor ini, disebut faktor usaha (al-muktasabah) dalam ilmu akhlaq. Semakin besar pengaruh faktor pendidikan atau kemungkinan warisan sifat-sifat buruk orang tua dapat mempengaruhi sikap dan perilaku anaknya.

Kemampuan ilmu (kognitif), sikap kejiwaan yang baik (afektif) dan keterampilan yang didasari oleh ilmu dan sikap baik manusia (psikomotorik) yang telah diperoleh dari proses pendidikan dan tuntunan agma, termasuk kemampuan dan sifat-sifat yang telah diusahakan oleh manusia (sifah al-muktasabah). Maka disinilah peranan orang tua di rumah tangga, guru di sekolah, dan tokoh agama di masyarakat, untuk membentuk manusia yang beragama, berilmu, dan berakhlaq mulia.

  1. Faktor Lingkungan Dan Adat Istiadat

Pembentukan akhlaq manusia, sangat ditentukan oleh lingkungan alam dan lingkungan sosial (faktor adat kebiasaan), yang dalam pendidikan disebut dengan faktor empiris (pengalaman hidup manusia), terutama sekali dipelopori oleh John Lock.

Pertumbuhan dan perkembangan manusia, ditentukan juga oleh faktor dari luar dirinya; yaitu faktor pengalaman yang disengaja, termasuk pendidikan dan pelatihan, sedangkan yang tidak disengaja, termasuk lingkungan alam dan lingkungan sosial. Lingkungan alam disebut “al-biah” dalam ilmu akhlaq, sedangkan lingkungan sosial disebut dengan “al-‘adah” dalam ilmu akhlaq.

Paham empirisme ini, berkembang luas di dunia Barat, terutama di Amerika Serikat, yang menjelma menjadi liran behaviorisme dalam ilmu pendidikan. Sedangkan dalam ilmu akhlaq, Mansur Ali Rajab mengemukakan pendapat J.J Rosseau yang mengatakan, bahwa faktor dalam diri manusia, termasuk pembawaannya, selalu membentuk akhlaq baik manusia, sedangkan faktor dari luar, termasuk lingkungan alam dan lingkungan sosialnya; ada kalanya berpengaruh baik, dan ada kalanya berpengaruh buruk. Ketika manusia lahir di ligkungan yang baik, maka pengaruhnya kepada pembentukan akhlaqnya juga baik, dan ketika ia lahir di lingkungan yang kurang baik, maka pengaruhnya juga menjadi tidak baik. Maka disinilah pendidikan dan bimbingan akhlaq sangat diperlukan, untuk membentuk dan mengembangkan akhlaq manusia. Ini diakui oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulum al-Din yang mengaatakan: seandainya akhlaq manusia tidak bisa diubah, maka tidak ada gunanya memberikan pesan-pesan, nasehat-nasehat dan pendidikan kepada manusia.[6]

  1. Faktor Agama (Kepercayaan)

Agama bukan saja kepercayaan yang harus dimiliki oleh setiap manusia, tetapi ia harus berfungsi dalam dirinya, untuk menuntun segala aspek kehidupannya; misalnya berfungsi sebagai sistem kepercayaan, sistem ibadah dan sistem kemasyarakatan yang terkait dengan nilai akhlaq.[7]

[1] Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, h.15

[2] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, h.48-49

[3] Mansur Ali Rajab, Taammulat Fi al-Falsafah al-Akhlaq, (Qairo: al-Injiliwi al-Misriyyah, 1961 M), h.96

[4] Mahjuddin, Akhlak Tasawuf II, h.31-32

[5] Mansur Ali Rajab, Taammulat Fi al-Falsafah al-Akhlaq, h.367

[6] Al-Ghazali, Juz III, h.54

[7] Mahjuddin, Akhlak Tasawuf II, h.33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s