KLASIFIKASI PENDIDIKAN AKHLAK

Standar

 

Adapun klasifikasi dari pendidikan akhlak yakni ada dua yaitu akhlaqul Mahmudah dan Akhlaqul Madzmumah, berikut penjelasanya:

  1. Akhlaqul Mahmudah

Akhlak terpuji merupakan terjemahan dari ungkapan bahasa Arab akhlaqul mahmudah. Mahmudah merupakan bentuk maf’ul dari kata hamida yang berarti “dipuji”. Akhlak terpuji disebut pula dengan akhlaq karimah (akhlak mulia), atau makarim al-akhlaq (akhlak mulia),[1]atau al-akhlaq al-munjiyat (akhlak yang menyelamatkan pelakunya).[2] Istilah yang kedua berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW, yang terkenal yaitu:

بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ .رواه أحمد

Artinya:“Aku diutus untuk menyempurnakan perangai (budi pekerti) yang mulia.” (H.R. Ahmad)

Berikut ini dikemukakan beberapa penjelasan tentang pengertian akhlak terpuji:

  1. Menurut Al-Ghazali, akhlak terpuji merupakan sumber ketaatan dan kedekatan kepada Allah SWT. Sehingga mempelajari dan mengamalkannya merupakan kewajiban individual setiap muslim.[3]
  2. Menurut Al-Quzwaini, akhlak terpuji adalah ketepatan jiwa dengan perilaku yang baik dan terpuji.[4]
  3. Menurut Al-Mawardi, akhlak terpuji adalah perangai yang baik dan ucapan yang baik.[5]
  4. Menurut Ibnu Qayyim, pangkal akhlah terpuji adalah ketundukan dan keinginan yang tinggi. Sifat-sifat terpuji, menurutnya, berpangkal dari kedua hal itu. Ia memberikan gambaran tentang bumi yang tunduk pada ketentuan Allah SWT. Ketika air turun menimpanya, bumi merespons dengan kesuburan dan menumbuhkan tanam-tanaman yang indah. Demikian pila manusia, tatkala diliputi rasa ketundukan kepada Allah SWT, lalu turun taufik dari Allah SWT, ia akan meresponsnya dengan sifat-sifat terpuji.[6]
  5. Menurut Ibnu Hazm, pangkal akhlak terpuji ada empat, yaitu adil, paham, keberanian, dan kedermawanan.[7]
  6. Menurut Abu Dawud As-Sijistani (w. 275/889), akhlak terpuji adalah perbuatan-perbuatan yang disenangi, sedangkan akhlak tercela adalah perbuatan-perbuatan yang harus dihindari.[8]

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak terpuji adalah perangai dan ucapan yang baik serta merupakan perbuatan yang disenangi.

Dalam menentukan macam-macam akhlak terpuji, para pakar mulia umumnya merujukan pada ketentuan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ini tentunya seiring dengan konsep baik dan buruk dalam pandangan Islam sebagaimana telah dipaparkan. Muhammad bin abdillah As-Sahim, umpamanya, menyebutkan bahwa diantara akhlak terpuji adalah bergaul secara baik dan berbuat baik kepada sesama, adil, rendah hati, jujur, dermawan, tawakal, ikhlas, bersyukur, sabar, dan takut kepada Allah SWT.[9] Selain sifat-sifat itu, Al-Qurthubi (1214-1273) menambahkannya dengan sifat memberi nasihat kepada sesama, membenci dunia, zuhud, serta mencintai Allah SWT. Dan Rasul-Nya.[10] Hassan Al-‘Aththar menambahinya dengan keselamatan batin (hati).[11] Al-Muttaqi Al-Hindi (1477-1567) dalam Kanz Al-‘Ummal menjelaskan secara rinci akhlak terpuji ini berdasarkan abjad. Hampir semua akhlak terpuji disebutkan dalam kitabnya.[12]

Dalam suatu riwayat dari Aisyah dikatakan bahwa akhlak terpuji ada sepuluh, yaitu jujur, berani di jalan Allah SWT. Memberi kepada pengemis, membalas kebaikan orang lain, silaturrahmi, menunaikan amanat, memuliakan tetangga, memuliakan tamu, dan malu (perawi tidak menyebutkan yang kesepuluhnya).[13]

Akhlaq terpuji mencakup karakter-karakter yang diperintahkan Allah dan Rasul untuk dimiliki seperti:[14]

  1. Rasa belas kasihan dan lemah-lembut (ar-rahman). Akhlak ini berdasarkan tuntunan Allah di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضٌّوْا مِنْ حَوْلِكَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmatdari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

  1. Pemaaf dan mau bermusyawarah (al-afwu). Akhlak ini berdasarkan Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 159 juga yaitu:

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْلَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْأَمْرِفَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya: “…karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

  1. Sikap dapat dipercaya dan mampu menepati janji (amanah). Tuntunan sikap ini berdasarkan Al-Qur’an surah al-Mu’minun ayat 8:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.”

  1. Manis Muka dan tidak sombong (anisatun). Tuntunan akhlak ini berdasarkan surat Luqman ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

  1. Tekun dan merendahkan diri di hadapan Allah Swt (Khusyu’ dan Tadharru’). Sesuai dengan tuntunan Allah dalam surat al-Mu’minun: 2, yaitu:

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Artinya: “Yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.”

  1. Sifat Malu (haya’). Akhlak ini sesuai dengan tuntunan Allah dalam surat al-Nisa’ ayat 108:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

Artinya: “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah berseta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusanrahasia yang Allah tidak ridhoi dan adalah Allah Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.”

  1. Persaudaraan dan perdamaian (al-ikhwan dan al-ishlah). Tuntunan al-Qur’an yang berkenaan dengan akhlak ini adalah surat al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

  1. Berbuat baik dan beramal shaleh (al-shalihat). Sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Nisa’ ayat 124:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Artinya: “Dan barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

  1. Sabar (al-Shabr). Sabar yang dimaksud mencakup 3 (tiga) hal yaitu: 1. Sabar dalam beribadah dan beramal. 2. Sabar untuk tidak melakukan maksiat, dan mengikuti godaan duniawi yang dilarang. 3. Sabar ketika tertimpa musibah dan malapetaka. Ini sesuai dengan tuntunan Allah dalam surat al-Baqarah ayat 153:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar danshalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

  1. Suka saling tolong-menolong (ta’awun). Sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketaqwaan dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.”

  1. Akhlak-akhlak lain seperti, menghormati tamu (al-dhiyāfah), menahan diri dari maksiat (al-hilm), berbudi pekerti tinggi (al-muru’ah), bersih/suci (al-nazhāfah), pemurah (al-sakhāu), sejahtera (al-salām), jujur (al-sidq), berani karena benar (al-syajā’ah), rendah hati (altawadhu’) dan amanah (al-amānah).

 

 

  1. Akhlaqul Madzmumah

Akhlaqul Madzmumah adalah akhlaq tercela. Keburukan akhlaq seseorang dapat dipengaruhi oleh bawaan buruk dan lingkungan sosial yang tidak menguntungkan perkembangan kejiwaannya; baik lingkungan rumah-tangganya, sekolah dan masyarakatnya.

Beberapa akhlaq buruk terhadap manusia dan lingkungan hidupnya, antara lain :

  1. Mementingkan diri sendiri dan berlaku zalim (Tafdilu al-Ananiyyah wa al-Zulmi).

Mementingkan diri sendiri disebut egoistis; yaitu upaya seseorang yang selalu mengutamakan dirinya dan tidak memperdulikan orang lain. Ia cenderung tega terhadap nasib orang lain dan tidak mau memberikan pertolongannya. Sedangkan zalim disebut juga aniaya; yaitu perlakuan sewenang-wenang terhadap orang lain, tanpa merasa dirinya bersalah. Sikap dan perilaku tersebut, sangat dilarang dalam islam, karena tidak dapat diharapkan untuk membangun rasa kasih sayang dan persahabat diantara sesama manusia. Perlakuan egoistis dan zalim membuat suram masa depan peradaban manusia, padahal tuntunan zaman selalu mencari jalan yang terbaik untuk memperoleh masa depan yang menjanjikan.

Karena orang yang egoistis dan zalim dianggap mengaburkan masa depan peradaban manusia, maka Rasulullah SAW menyampaikan kepada sahabatnya, bahwa egoistis dan kezaliman adalah identik dengan kegelapan[15], sebagaimana sabdanya yang mengatakan :

Waspadalah terhadap kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu menjadi kegelapan di hari kiamat. Waspadalah terhaap kekikiran, karena sesungguhnya kikir pernah (mengakibatkan) kehancuran bagi orang-orang (yang hidup) sebelum kalian. Termasuk juga (hancur) orang-orang yang pernah menumpahkan darah (berperang) dan orang-orang yang mengawini muhramnya”. HR. Ahmad, yan bersumber dari Jabir.[16]

  1. Iri Hati dan Benci (Adaau al-Hasadi wa al-Sukhti)

Muhammad bin ‘Ilan al-Sadiqi mengatakan, bahwa iri hati (dengki) adalah suatu sikap yang selalu mengharapkan agar nikmat (kesenangan) orang lain segera lenyap.[17]

Sedangkan membenci adalah sikap seseorang yang sangat tidak senang kepada orang lain.[18] Sikap iri hati dan benci sangat dilarang dalam agama, sebagaimana Rasulullah SAW mengatakan:

“Jauhkanlah dirimu dari sifat dengki, karena sifat itu dapat menghancurkan kebaikan, sama halnya dengan api yang dapat menghanguskan kayu bakar.” HR. Abu Dawud.[19]

Seperti juga membenci, sangat dilarang oleh agama. Tatkala ada salah seorang sahabat meminta kepada Nabi agar diberi nasehat, Nabi hanya mengatakan: Jangan engkau suka marah (membenci orang lain). Kedua sifat tersebut sangat berbahaya dalam kehidupan manusia, sehingga al-Samarqandi  menyebutnya sebagai salah satu sumber kesalahan dan dosa diantara sesama manusia, yang disebutnya sebagai ummahatu al-khataya.

Kedua sifat tersebut yang pertama-tama melanda keluarga Nabi Adam AS, hingga terbunuhnya Habil oleh Qabil. Lalu Nabi Adam sangat berhati-hati dan mengarapkan agar kejadian tersebut tidak terulang lagi pada keluarganya, sehingga ia segera mengumpulkannya, kemudian memberinya nasihat.

Al-Ghazali selalu mengingatkan kepada murid-muridnya tentang konsekuensi negatif yang ditimbulkan oleh iri hati dan kebencian, yang disebutnya sebagai salah satu penyakit hati (Maradhu al-Qalbi). Ia menyarankan agar sifat tersebut ditekan, lalu membiasakan diri uuntuk mencintai dan menyayangi orang lain. Dan harus dilakukan berkali-kali, hingga dapat menunjukkan sifat-sifat baik terhadap orang lain.

  1. Angkuh dan Sombong (Al-‘As’aru wa al-‘Ujbu)

Angkuh adalah penampilan diri yang congkak, karena memandang rendah orang lain.[20] Sedangkan sombong adalah terlalu menghargai dirinya secara berlebih-lebihan, lalu bersikap tidak menghargai sama sekali terhadap orang lain.[21] Ia menghargai dirinya karena mengandalkan ilmunya, hartanya, keluarganya, nasabnya, dan kegagahan atau kecantikannya. Lalu orang lain dipandang tidak memiliki hal-hal tersebut. Inilah yang mendorong untuk bersikap angkuh dan menyombongkan dirinya.

Al-Qur’an menyebut istilah angkuh dengan kata as’ar, sebagaimana disebutkan dalam surat luqman ayat 18. Sedangkan istilah sombong, disebut kata ujbu, sebagaimana dalam surah at-Taubah ayat 25. Kedua istilah tersebut, merupakan perilaku takabbur, dan merasa dirinya tidak membutuhkan orang lain. Dalam diri orang tersebut, terdapat sikap yang tertutup dan tidak mau memperdulikan orang lain dan ia cenderung kikir. Inilah yang disebut dalam hadits sebagai sikap yang hanya dapat merusak tatanan persaudaraan yang telah dibangun dalam islam. Hadits tersebut bersumber dari Abi Tha’labah yang menyatakan : Tiga (perilaku manusia) yang menjadi rusak (di masyarakat), yaitu menuruti sikap kikir, mengikuti keinginan nafsu dan seseorang yang selalu menyombongkan diri. [22]

  1. Mendurhakai Orang Tua dan Memutuskan Silatur al-Rahim (‘Aqqu al-Walidayn Wa-Qat’u al-Arham).

Mendurhakai orang tua, artinya menentang dan tidak menuruti perintah orang tua. Bahkan ada yang menyakiti perasaan orang tua atau tidak mau membantunya. Sedangkan memutuskan silaturrahim, artinya tidak mau lagi berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, lantaran ia tidak senang kepadanya.

Al-Qur’an dalam surah Isra’ ayat 23 sempat melarang mendurhakai kedua orang tua, karena dia yang susah payah mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan dan mendidik dengan waktu yang panjang, dan penuh kesusahan dan kasih sayang.

Rasulullah saw mengategorikan durhaka kepada orang tua sebagai dosa besar dengan mengatakan :

Sesungguhnya dosa yang paling besar adalah musyrik, mendurhakai kedua orang tua dan (mengucapkan) sumpah palsu”. HR. At-Tirmidzi, yang bersumber dari Aisyah.[23]

Kemudian perilaku yang memutuskan sillaturrahim, Al-Qur’an juga melarangnya, sehingga beberapa ayat yang menganjurkan untuk menyambung sillaturrahim, antara lain pada surah an-Nisa’ ayat 1 dan surah Muhammad ayat 22-23.

Begitu besar konsekuensi kemasyarakatan yang diakibatkan oleh perilaku pemutusan silaturrahim diantara sesama manusia, maka Rasulullah mengatakan dalam hadits Qudsi:

Sesungguhnya Allah ketika menciptakan kasih sayang, ia berfirman: Akulah yang mengasihani (hambaku) dan engkaulah yang mengasihani (sesamamu).” HR. Al-Bukhari. [24]

Allah SWT menjadikan orang yang memutuskan silaturrahim sebagai orang yang tuli dan buta. Tuli perasaannya dan buta hatinya, karena ia tidak mau merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, dan tidak mau melihat penderitaan dan kesengsaraan orang lain, kecuali hanya mementingkan dirinya saja. Kalau di dunia sudah dibuat buta oleh Allah karena perbuatannya, maka lebih-lebih nanti di akhirat.

[1] Istilah “Al-Akhlaq Al-Karimah” digunakan – umpamanya – oleh Abi Abdirrahman As-Sulami, Adab Ash-Shuhbah, (Mesir:Dar Ash-Shahabah At-Turats, Thantha, 1990), 37 dan As-Safarayni, Ghida Al-Albab Syarh Manzhumah Al-Adab, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-ilmiyyah, 2002), Jilid II, h.455

[2] Istilah “Al-Akhlaq Al-Munjiyat” digunakan – umpamanya – oleh Sayyid Muhammad ‘Aqil bin ‘Ali Al-Mahdali, Al-Akhlaq ‘Inda Ash-Shuffiyah, (Kairo: Dar Al-Hadis, 1996), h.159

[3] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum Ad-Din, (Beirut: Dar Al-Ma’rifah, t.t.), Jilid I, h.21

[4] Al-Quzwainiy, Mukhtashar Syu’b Al-Iman, h.116-117

[5] Muhammad Safirayni, Ghida Al-Albab, (Beirut: Dar Al-Qalam Ath-Thiba’ah, 2006), Jilid I, h.353-354

[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Fawa’id, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1973), h.143

[7] Ibnu Hazm, Al-Akhlaq wa As-Siyar, (Kairo: Dar Al-Masyriq Al-Arabi, 1988), h.128

[8] Abd Al-Muhsin Al-‘Ibad, Syarh Sunan Abi Dawud, Juz XXVII, h.373

[9] Muhammad bin Abdillah As-Sahim, Al-Islam: Ushulul wa Mabadi’uh, (Saudi Arabia: Wizarah Asy-Syu’un Al-Islamiyyah wa Ad-Da’wah wa al-Irsyad, 1421 H), h.209

[10] Al-Qurthubi, Al-I’lam bima fi Din An-Nashara min Al-Fasad wa Al-Auham wa Izhar Mahasin Al-Islam, (Kairo: Dar At-Turats Al-Arabi, 1398 H), h.445

[11] Hassan Al-‘Aththar, Hasyiyah Al-‘Aththar ‘ala Jam’Al-Jawami’, juz II, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘ilmiyyah, 1999), h.516

[12] Lihat Al-Hindi Al-Muttaqi, Kanz Al-‘Ummal, Juz III, (Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 1981), h.21

[13] Ibid., Juz III, h.662-663

[14] M. Sholihin, Akhlak Tasawuf: Manusia Etika dan Makna Hidup, (Bandung: Nuansa, 2005), h.111-113

[15] Mahjuddin, Akhlak Tasawuf II, h.23-24

[16] Al-Suyuti, al-Jami’u al-Saghir Fi-Ahadith al-Basyir al-Nazir, Juz I, (Bairut: Dar al-Fikr, tt), h.9

[17] Muhammad bin ‘Ilan al-Sadiqi, Dalil al-Falihin, Juz II, h.94

[18] Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h.115

[19] Al-Suyuti, al-Jami’u al-Saghir Fi-Ahadith, h.116

[20] Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar, h.14

[21] Ibid., h.956

[22] Jamalu al-Din al-Qasimi, Maw’izah al-Mu’minin Min-ihya Ulumi al-Din Juz II, (Qairo, al-Babi al-Halabi, tt) h.309

[23] Suyuti, al-Jami’u al-Saghir Fi-Ahadith, h.99

[24] Nasr bin Muhammad bin Ibrahim Al-Samarqandi, Tanbih al-Ghafilin, (Beirut: Dar Al-Fikr, tt) h.48

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s