METODE PEMBINAAN AKHLAK

Standar

 

Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad SAW yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Perhatian islam yang demikian terhadap pembinaan akhlak ini dapat pula dilihat dari perhatian islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik, dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin.[1]

Perhatian islam dalam pembinaan akhlaq selanjutnya dapat dianalisis pada muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran islam. Ajaran islam tentang keimanan misalnya sangat berkaitan erat dengan mengerjakan serangkaian amal shaleh dan perbuatan terpuji. Iman yang tidak disertai dengan amal shaleh dinilai sebagai iman yang palsu, bahkan dianggap sebagai kemunafikan. Dalam Al-Qur’an kita misalnya membaca ayat berbunyi:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ أَمَنَّا بِاللهِ وَ بِالْيَوْمِ الْأَخِرِ وَمَاهُمْ بِمُعْمِنِيْنَ

Artinya: Dan diantara manusia (orang munafik) itu ada orang yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hadir, sedang yang sebenarnya mereka bukan orang yang beriman.” (QS.Al-Baqarah: 8-9)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman kepada Allah dan rasulNya, kemudian itu mereka tidak ragu-ragu dan senantiasa berjuang dengan harta dan dirinya di jalan Allah. Itulah orang-orang yang benar (imanNya). (QS.Al-Hujurat: 15)

Ayat-ayat diatas menunjukkan dengan jelas bahwa iman yang dikehendaki islam bukan iman yang hanya sampai pada ucapan dan keyakinan tetapi iman yang disertai dengan perbuatan dan akhlak yang mulia, seperti tidak ragu-ragu menerima ajaran yang dibawa rasul, mau memanfaatkan harta dan dirinya untuk berjuang di jalan Allah dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa keimanan harus membuahkan akhlak, dan juga memperlihatkan bahwa islam sangat mendambakan terwujudnya akhlak yang mulia.

Pembinaan akhlak juga terintegrasi dengan pelaksanaan rukun iman dan islam. Hasil analisis Muhammad Al-Ghazali terhadap rukun islam yang lima dalam menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam rukun islam yang lima itu terkandung konsep pembinaan akhlak. Rukun islam yang pertama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat ini mengandung pernyataan bahwa selama hidupnya manusia hanya tunduk kepada aturan dan tuntutan Allah. Orang yang tunduk dan patuh pada aturan Allah dan Rasulnya sudah dapat dipastikan akan menjadi orang yang baik.

Selanjutnya rukun islam yang kedua adalah mengerjakan sholat lima waktu. Sholat yang dikerjakan akan membawa pelakunya terhindar dari perbuatan yang keji dan munkar. (QS.Al-Ankabut: 45) dalam hadits qudsi dijelaskan pula sebagai berikut:

إِنَّمَا اَتَقَبَّلَ الصَّلَاةُ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعَظَمَتِيْ وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَلَى خَلْقِى وَلَمْ يَبِتْ مُصِرًا عَلَى مَعْصِيَتِيْ وَ قَطَعَالنَّهَارَ فِى ذِكْرِىْ وَرَحِمَ الْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَالْأَرْمِلَةَ وَرَحِمَ الْمُصَابَ (رواه بزّر)

Artinya: Bahwasannya Aku menerima sholat hanya dari orang yang bertawadhu’ dengan sholatnya kepada keagunganKu yang tidak terus menerus berdosa, menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk dzikir kepadaKu, kasih sayang kepada fakir miskin, ibnu sabil, janda serta mengasihi orang yang mendapat musibah. (HR. Al-BAzzar)

Pada hadits tersebut sholat diharapkan dapat menghasilkan akhlak yang mulia, yaitu bersikap tawadhu’, mengagungkan Allah, berdzikir, membantu fakir miskin, ibnu sabil, janda dan orang yang mendapat musibah. Selain itu sholat (khususnya jika dilaksanakan berjama’ah) menghasilkan serangkaian perbuatan seperti kesehajaan, imam dan makmum sama-sama berada dalam satu tempat, tidak saling berebut untuk menjadi imam, jika imam batal dengan rela untuk digantikan yang lainnya, selesai sholat saling berjabat tangan, dan seterusnya. Semua ini mengandung ajaran islam.

Selanjutnya dalam rukun islam yang ketiga, yaitu zakat juga mengandung didikan akhlak yaitu agar orang yang melakukannya dengan membersihkan dirinya dari sifat kikir, mementingkan diri sendiri, dan membersihkan hartanya dari hak orang lain, yaitu hak fakir miskin dan seterusnya. Muhammad Al-Ghazali mengatakan bahwa hakikat zakat adalah untuk membersihkan jiwa dan mengangkat derajat manusia ke jenjang yang lebih mudah.[2]

Pelaksanaan zakat yang berdimensi akhlak yang bersifat sosial ekonomis ini dipersubur lagi dengan pelaksanaan shadaqah yang bentuknya tidak hanya materi, tetapi juga nonmateri. Hadis nabi di bawah ini menggambarkan shodaqah dalam hubungannya dengan akhlak yang mulia.

تَبَسُمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهْيُكَ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِى أَرْضِ الضَّلَالِ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْأَذَى وَالشَّوْكَ وَالعِظَمَ عَنِ الطَّرِيْقِ لَكَ صَدَقَةٌ (رواه بخارى)

Artinya: Senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah shodaqah dan amar ma’ruf serta nahi munkar juga shodaqah dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu shodaqah dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu, duri, atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu juga merupakan shodaqah. (HR. Bukhari)

Begitu juga islam mengajarkan ibadah puasa sebagai rukun yang keempat bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum dalam waktu yang terbatas tetapi lebih dari itu merupakan latihan menahan diri dari keinginan melakukan perbuatan keji yang dilarang. Dalam hubungan ini Nabi mengingatkan:

مًنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ غِى اَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخارى)

Siapa yang tidak suka meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan yang palsu, maka Allah tidak membutuhkan diri padanya, puasa meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Al-Bukhari)

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأُكُلِ وَالشُّرْبِ وَإِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَاثِ فَإِنْ سَابَكَ اَحَدٌ اَوْ جَهَلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ (رواه إبن حزيمة)

Bukanlah puasa itu hanya menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi bahwasanya puasa itu menahan diri dari perkataan-perkataan kotor dan omongan-omongan yang keji. Kalau ada seoreang datang kepadamu memarahi dan mengatakan engkau bodoh (dan sebagainya), katakanlah “aku sedang berpuasa”. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Selanjutnya rukun islam yang kelima adalah ibadah haji. Dalam ibadah haji inipun nilai pembinaan akhlaknya lebih besar lagi dibandingkan dengan nilai pembinaan akhlak yang ada pada ibadah dalam rukun islam lainnya. Hal ini bisa dipahami karena ibadah haji ibadah dalam islam bersifat komprehensif yang menuntut persyaratan yang banyak, yaitu disamping harus menguasai ilmunya, juga harus sehat fisiknya, ada kemauan keras, bersabar dalam menjalankannya dan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, serta rela meninggalkan tanah air, harta kekayaan dan lainnya. Hubungan ibadahhaji dengan pembinaan akhlak ini dapat dipahami dari ayat yang berbunyi:

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor (jorok), berbuat fasik dan berbantah-bantahan didalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan ‘niscaya Allah mengetahuinya berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqarah:197)

Berdasarkan analisis yang didukung dali-dalil Al-Qur’an dan Al-hadis tersebut diatas, kita dapat mengatakan bahwa islam sangat memberi perhatian yang besar terhadap pembinaan akhlak termasuk cara-caranya. Hubungan antara rukun iman dan rukun islam terhadap pembinaan akhlak sebagaimana digambarkan diatas, menunjukkan bahwa pembinaan akhlak yang ditempuh islam adalah menggunakan cara atau sistem yang integrated, yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana peribadatan dan lainnya secara simultan untuk diarahkan pada pembinaan akhlak.

Cara lain yang dapat ditempuh untuk pembinaan akhlak ini adalah pembiasaan yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu. Berkenaan dengan ini imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kepribadian manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembiasaan. Jika manusia membiasakan berbuat jahat, maka ia akan menjadi orang jahat.

Untuk ini Al-Ghazali menganjurkan agar akhlak dianjurkan, yaitu dengan cara melatih jiwa kepada pekerjaan atau tingkah laku yang mulia. Jika seseorang menghendaki agar ia menjadi pemurah, maka ia harus dibiasakan dirinya melakukan pekerjaan yang bersifat pemurah, hingga murah hati dan murah tangan itu menjadi tabiatnya yang mendarah daging.[3]

Dalam tahap-tahap tertentu, pembinaan akhlak, khususnya akhlak lahiriyah dapat pula dilakukan dengan cara paksaan yang lama kelamaan tidak lagi terasa dipaksa. Seseorang yang ingin menulis dan mengatakan kata-kata yang bagus misalnya, pada mulanya ia harus memaksakan tangan dan mulutnya menuliskan atau mengatakan kata-kata dan huruf yang bagus. Apabila pembiasaan ini sudah berlangsung lama, maka paksaan tersebut sudah tidak terasa lagi sebagai paksaan.

Cara ini yang tak kalah ampuhnya dari cara-cara diatas dalam hal pembinaan akhlak ini adalah melalui keteladanan. Akhlak yang baik tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran, intruksi dan larangan, sebab tabiat jiwa untuk menerima keutamaan itu tidak cukup hanya seorang guru mengatakan kerjakan ini dan jangan kerjakan itu. Menanamkan sopan santun memerlukan pendidikan yang panjang dan harus ada pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidak akan sukses melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata.[4] Cara yang demikian itu telah dilakukan oleh rasulallah saw. Keadaan ini dinyatakan dalam ayat yang berbunyi:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat contoh teladan yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi orang yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi orang yang mengharapkan keridhoan Allah dan (berjumpa dengannya di) hari kiamat dan selalu banyak menyebut nama Allah. (QS.Al-Ahzab: 21)

Senada dengan hal itu, Abdullah Nasih Ulwan berpendapat bahwa seorang pendidik barangkali akan merasa mudah mengkomunikasikan pesannya secara lisan. Namun, anak akan merasa kesulitan dalam memahami pesan yang disampaikannya.[5] Dengan demikian, keteladanan merupakan faktor dominan dan berpengaruh bagi keberhasilan pendidikan dan metode pendidikan yang paling  membekas pada diri peserta didik.

Tak hanya dengan teladan, metode nasehat juga sangat dibutuhkan dalam pembinaan akhlak. Dengan metode ini, seseorang dapat menanamkan pengaruh yang baik ke dalam jiwa seseorang. Cara yang dimaksud ialah: Pertama, nasehat hendaknya lahir dari hati yang ikhlas. Nasehat yang disampaikan secara ikhlas akan mengena dalam tanggapan pendengarnya. Kedua, nasehat hendaknya berulang-ulang agar nasehat itu meninggalkan kesan sehingga orang yang dinasehati tergerak untuk mengikuti nasehat itu.[6] Allah Swt. pun menjelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ..

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..

Selain itu pembinaan akhlak dapat pula ditempuh dengan cara senantiasa menganggap diri ini sebagai manusia yang banyak kekurangannya dari pada kelebihannya dalam hubungan ini ibnu sina mengatakan jika seseorang menghendaki dirinya berakhlak utama, hendaknya ia lebih dahulu mengetahui kekurangan dan cacat yang ada dalam dirinya, dan membatasi sejauh mungkin untuk tidak berbuat kesalahan sehingga kecacatannya itu tidak terwujud dalam kenyataan.[7] Namun ini bukan berarti bahwa ia menceritakan dirinya sebagai orang yang paling bodoh, paling miskin dan sebagainya di hadapan orang-orang, dengan tujuan justru merendahkan orang lain. Hal yang demikian dianggap tercela dalam islam.

Pembinaan akhlak secara efektif dapat pula dilakukan dengan memperhatikan faktor kejiwaan sasaran yang akan dibina. Menurut hasil penelitian para psikolog bahwa kejiwaan manusia berbeda menurut perbedaan tingkat usia. Pada usia kanak-kanak misalnya lebih menyukai kepada hal-hal yang bersifat rekreatif dan bermain. Untuk itu ajaran akhlak dapat disajikan dalam bentuk permainan. Hal ini pernah dilakukan oleh para ulama’ di masa lalu. Mereka menyajikan ajaran akhlak lewat syair yang berisi sifat-sifat Allah dan Rasul, anjuran beribadah dan berakhlak mulia dan lain-lainnya. Syair tersebut dibaca pada saat menjelang dilangsungkannya pengajian, ketika akan melaksanakan sholat lima waktu dan acara-acara peringatan hari-hari besar islam.[8]

Selain metode-metode tersebut, terdapat pula metode ‘ibrah. ‘Ibrah menurut An-Nahlawi yang dikutip oleh Ahmad Tafsir, ibrah adalah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi dengan menggunakan nalar yang menyebabkan hati mengakuinya.[9]

Tujuan metode ini adalah mengantarkan manusia kepada kepuasan pikir tentang perkara keagamaan yang bisa menggerakkan, mendidik, atau menumbuhkan perasaan keagamaan. Adapun pengambilan ‘ibrah bisa dilakukan melalui kisah-kisah teladan, fenomena alam atau peristiwa yang terjadi baik di masa lalu atau masa sekarang. Allah Swt. Menegaskan dalam firmanNya:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ…

Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal… (QS. Yusuf: 111)

Dalam skripsi ini, metode pembinaan akhlak yang digunakan ialah metode ibrah. Melalui kisah Nabi Ya’kub as, Nabi Yusuf as. dan saudara-saudaranya yang disajikan di dalam Al-Qur’an Surah Yusuf, peneliti diharapkan dapat memahami kandungan ayatnya dan mengambil ibrah dari perjalanan kisah mereka.

[1] Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim. (terj.) Moh. Rifa’I dari judul asli Khuluq Al-Muslim, (Semarang: Wicaksana 1993), cet. IV, h.13

[2] Ibid., h.12

[3] Imam Al-Ghazali, Kitab Al-Arba’in fi Ushul Al-din, (Kairo: Maktabah Al-Hindi.t.t.) h.190-191. Lihat pula Asmaran, As, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Rajawali Pers, 1992), cet-1, h.45

[4] Ibid., h.16

[5] Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, terj. Jamaludin Miri, Jilid II, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), h.178

[6] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h.146

[7] Ibnu Sina, Ilmu Akhlak, (Mesir: Dar Al-Ma’arif.t.t.) h.202-203

[8] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, h.156-164

[9] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h.145

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s