APLIKASI PENDEKATAN SISTEM DALAM PEMBELAJARAN PAI

Standar

Menurut Oemar Hamalik, langkah-langkah perencanaan (desain) pembelajaran termasuk pelajaran PAI sebagai berikut:

Pada tahap perencanaan, komponen-komponen pembelajaran PAI yang harus direncanakan oleh guru PAI melalui pendekatan sistem antara lain:

  1. Menetapkan tujuan pembelajaran PAI

Sebagai langkah awal dalam desain pembelajaran, guru PAI harus menelaah kurikulum untuk mengetahui tujuan dan kompetensi mata pelajaran. Kemudian, ia mengembangkannya dalam bentuk silabus sebagai uraian program yang mencantumkan mata pelajaran, tingkat satuan pendidikan, semester, pengelompokan standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pokok, indikator, strategi pembelajaran, alokasi waktu, sumber dan media, serta sistem penilaian.

Secara umum, PAI bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara. Tujuan umum ini akan dijabarkan dalam kompetensi dasar pada setiap topik bahan ajar sesuai tingkat kelas dan semester siswa yang meliputi kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik.

  1. Menetapkan strategi pengorganisasian isi pelajaran PAI

Materi/bahan ajar dalam pembelajaran PAI adalah terdiri dari al-Qur’an dan al-Hadist, keimanan, syari’ah, ibadah, muamalah, akhlaq dan sejarah yang lebih menekankan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan dalam Islam. Semua materi ini harus direncanakan secara sistematik sesuai dengan kelas, semester, alokasi waktu, sumber belajar, media, dan karakteristik siswa yang akan menerima materi pelajaran. Disamping itu, pengorganisasian materi PAI harus dikelola dari yang mudah ke sulit, dari konkret ke abstrak, dari simpel ke kompleks.

  1. Merencanakan peran pendidik dan siswa dalam kegiatan pembelajaran

Pendidik dan siswa merupakan subyek utama yang sangat berperan dan saling membutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran PAI, sebab tanpa peran aktif keduanya tidak akan terjadi mobilisasi pembelajaran. Karena itu, guru harus mempu membangun kerjasama yang sinergis dengan siswa dalam semua aksi transformasi keilmuan dan sikap sehingga siswa dapat mencapai berbagai kompetensi pembelajaran yang tertuang dalam kurikulum.

  1. Menentukan strategi pembelajaran PAI

Strategi ini merupakan tehnik mengelola kegitan-kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam interaksi pembelajaran. Menentukan strategi ini mencakup pendekatan dan metode pembelajaran PAI yang akan digunakan agar sesuai sumber daya sekolah dan keadaan peserta didik. Di dalam pembelajaran PAI, banyak pendekatan dan metode yang dapat diterapkan, tetapi metode yang sering digunakan adalah metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, dan diskusi.

  1. Menetapkan tehnik evaluasi hasil pembelajaran PAI

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah diberikan oleh guru PAI. Penilaian pembelajaran harus direncanakan dengan tepat agar instrumen penilaiannya reabel dan valid untuk mengukur kemampuan siswa dengan mengacu pada penilaian yang berbasis kelas, yakni penilaian proses dan hasil ujian siswa.

  1. Memilih fasilitas, media, dan lingkungan pembelajaran PAI

Perencanaan terhadap fasilitas, media dan lingkungan pembelajaran PAI yang tepat akan mampu memberikan pengalaman belajar dan mempermudah peserta didik untuk menerima pelajaran yang disampaikan guru. Pemilihan fasilitas, media, dan lingkungan pembelajaran PAI dimaksudkan untuk menghemat dana, waktu, dan tempat atau guru dapat merencanakan kegiatan pembelajaran PAI sesuai dengan kondisi dan sumberdaya sekolah yang tersedia.[1]

Pada tahap pelaksanaannya, guru PAI harus melaksanakan proses pembelajarannya dengan berpedoman pada rancangan pembelajaran yang sudah disusun dengan pendekatan sistem. Bentuk rancangan yang dipergunkan saat ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memiliki beberapa komponen yang saling berkaitan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model satuan pelajaran ini merupakan istilah yang perkenalkan melalui KBK dan KTSP yang saat ini harus dipahami oleh semua guru.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana atau program yang disusun oleh guru untuk satu atau dua kali pertemuan untuk mencapai target satu kompetensi dasar. RPP diturunkan dari silabus yang telah disusun dan bersifat aplikatif di kelas. Secara sistematik, sebuah RPP memiliki komponen-komponen sebagai berikut; Identitas mata pelajaran, standar kompetensi mata pelajaran, kompetensi dasar setiap topik materi, dan indikator yang hendak dicapai setiap materi, pokok materi, kegiatan pembelajaran, media pembelajaran, sumber belajar, dan evlauasi. Semua komponen ini harus dirancang oleh guru PAI dalam bentuk RPP yang akan dijadikan pedoman selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran pada setiap semester.

Pada komponen kegiatan pembelajaran, sebuah RPP menyajikan langkah-langkah operasional yang akan dikerjakan oleh guru dan siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran ini terdiri dari tiga tahap, yaitu; awal, inti, dan akhir. Pada kegiatan awal, guru PAI membuka pelajaran dengan salam dan doa, menyiapakan kondisi kelas dan siswa, memberikan appersepsi, dan menyampaikan tujuan pembelajaran dari materi pertemuan yang berjalan. Pada kegiatan inti, guru PAI harus mampu mengelola aksi belajar siswa, sehingga berperan aktif mengikuti pembelajaran. Karena itu, guru PAI senatiasa memulai materi pelajaran dengan memberikan penjelasan singkat, memperkenalkan dan mencontohkan cara menggunakan media peraga, membagi siswa menjadi beberapa kelompok belajar, berdiskusi, memberikan tugas latihan, membuka sesi tanya jawab, meminta siswa memperagakan media melalui praktik kelas. Pada kegiatan akhir, guru PAI melaksanakan prosedur penutupan yang berorientasi pada pemantapan pemahaman siswa dan tindaklanjut materi. Kegiatan akhir ini mencakup; penyimpulan materi yang sudah dipelajari, memberikan tindaklanjut berupa tugas praktik/latihan dan PR serta mengakhiri pembelajaran dengan doa dan salam.

Pada tahap evaluasi, guru PAI merancang sistem penilaiannya dengan mengacu pada pendekatan sistem. Artinya, sebelum melaksanakan evaluasi hasil pembelajaran siswa, guru PAI harus menganalisa kembali beberapa komponen yang turut mempengaruhi prestasi belajar siswa seperti; tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan dan kompetensi belajar, ketepatan materi yang sudah disajikan dengan tujuan dan kompetensi tersebut, relevansi strategi pembelajaran yang sudah digunakan dengan media dan sumber belajar siswa, penguasaan siswa terhadap materi yang akan diujikan.

Guru PAI menilai kemampuan siswa dengan mengacu pada konsep penilaian berbasis kelas yang terfokus pada dua aspek penilaian, yaitu proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Penilaian proses dimulai sejak awal masa pembelajaran dengan mengukur perkembangan aspek afektif siswa melalui internalisasi dan penghayatan nilai beragama siswa selama di sekolah dan unjuk kerja psikomotorik yang sudah dihasilkan berupa aksi ibadah yang bersifat mahdhah, gambar islami, etika sosial dalam bergaul di sekolah ataupun di masyarakat.

Penilaian proses ini disebut juga dengan penilaian Authentic Assesment yang mengandung makna bahwa penilaian yang mengacu pada pembelajaran yang telah terjadi, menyatu ke dalam proses belajar mengajar dan memberikan kesempatan serta arahan kepada siswa untuk maju. Authentic Assesment sekaligus dipergunakan sebagai alat kontrol untuk melihat kemajuan siswa dan feedback bagi praktek pengajaran selanjutnya. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assesment tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar, tetapi dilakukan bersama-sama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.

Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assesment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan kepada sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.

Perencanaan penilaian autentik dalam pembelajaran PAI tentu akan menilai pengetahuan dan keterampilan (performance) yang diperoleh siswa selama mengikuti pembelajaran. Penilai tidak hanya guru, tetapi dapat juga teman atau orang lain. Karakteristik penilaian autentik:

  1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran PAI berlangsung.
  2. Bisa digunakan untuk ujian formatif maupun sumatif.
  3. Yang diukur keterampilan dan performansi beragama.
  4. Terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran PAI
  5. Dapat digunakan sebagai feed back pembelajaran PAI selanjutnya.

Penilaian hasil belajar siswa lebih cenderung mengukur kemajuan belajar kognitif siswa yang terkadang pencapain hasil nominalnya sering direkayasa dengan berbagai siasat oleh siswa ketika mengikuti ujian akhir. Kondisi yang perlu dipahami oleh setiap guru PAI dalam menilai hasil belajar siswa melalui berbagai bentuk item soal ini, yaitu ketepan dan kebenaran soal ujian yang berkaitan dengan tujuan dan kompetensi pelajaran PAI yang termuat dalam kurikulum/silabus dan materi ajar yang sudah dipelajari siswa selama mengikuti pembelajaran di kelas.

[1] Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005)12.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s